Jangan  ̷M̷a̷t̷i̷ Meninggal Saat Covid-19!

Wednesday, May-06-2020
admin

Jangan ̷M̷a̷t̷i̷ Meninggal Saat Covid-19!

Pada hari Kamis, 2 April 2020, sekitar pukul 02 dini hari, ayah gw beristirahat dengan tenang untuk selamanya. Ayah gw memang sudah cukup lama menderita sakit, yang sampai detik ini tidak ada satu dokter pun di Bandung yang bisa dengan tegas menyatakan sakit apa. Entah karena keterbatasan pengetahuan kedokteran atau alasan lainnya.

Dokter A mengatakan sakit TBC-nya kambuh. Dokter B mengatakan maag-nya mengeluarkan gas yang menekan paru-parunya sehingga mengurangi kemampuan bernafas. Dokter C mengatakan paru-parunya mengecil, karena faktor usia. Dokter D hanya mengatakan penyakit tua. Karena memang ayah gw sudah berumur 80 tahun, dan sering sesak nafas.

Yang pasti pada hari itu, ayah gw berpulang di rumahnya (ayah gw tinggal bersama ibu dan keluarga kakak gw). Mendengar kabar tersebut, gw segera ke rumah ayah yang tidak jauh dari rumah gw. Kemudian gw dan kakak gw mencoba menghubungi beberapa rumah sakit untuk meminta surat kematian. Surat kematian ini diperlukan agar kami dapat mengurus pemakaman atau kremasi.

Mengejar Surat Kematian

Pada keadaan normal, permintaan surat kematian ini cukup mudah, tinggal menghubungi dokter umum terdekat dengan biaya sekitar Rp100,000-an. Tapi pada keadaan pandemi ini, tidak ada yang normal apalagi mudah & murah.

Semua rumah sakit yang kami hubungi menolak menerbitkan surat kematian apalagi memandikan almarhum. RS A beralasan, "biasanya langsung ke rumah duka". RS B beralasan, "maaf, sedang penuh". RS C beralasan, "sedang tidak menerima kematian non pasien". RS D yang konon merupakan rumah sakit kepolisian rujukan Covid-19 beralasan, "kemarin kami menerima kasus yang ternyata Covid-19, jadi kami sekarang tidak menerima dari luar".

Kami pun mencoba menghubungi rumah duka (RD). Semua RD menolak, karena menurut mereka prosedur-nya sekarang RD hanya menerima jenazah dalam keadaan sudah dimandikan dan dalam peti tertutup.

Menghubungi puskemas terdekat? Apalagi! Belum apa-apa, mereka menuduh kita suspect Covid-19, dan langsung diusir dari puskesmas! Meminjam mobil ambulan pun ditolak. Tapi untunglah salah satu pegawai gw berinisiatif meminjam mobil ambulan dari kelurahannya dengan mengatasnamakan keluarganya sendiri.

Biarpun mobil ambulan datang, kami belum mengetahui mau dibawa kemana almarhum. Tadinya gw pikir bawa saja ke rumah sakit terdekat, toh kalo sudah di sana, mereka tidak akan menolak (?). Tapi sopir ambulan memberikan usul lain, "bawa ke RSHS!". Sebagai rumah sakit rujukan Covid-19, seharusnya RSHS bisa memberikan solusi (sekali lagi gw tekankan, ayah gw bukan Covid-19).

Akhirnya kami pun sepakat dibawa ke RSHS. Setibanya di sana, kami diarahkan untuk menuju unit Forensik RSHS. Uh... Unit forensik ini biasanya menangani kasus-kasus kematian khusus, seperti kriminal, kecelakaan, bencana alam, dsb. Tapi karena tidak ada pilihan lain, kami pun membawa almarhum ke Forensik RSHS.

Setibanya disana, dokter forensik bersedia mengeluarkan surat kematian, tapi hanya setelah melakukan otopsi luar pada almarhum. Biayanya? Rp3,6 juta (sudah termasuk memandikan)! Wow! Bukan dokternya madut, tapi memang di forensik, prosedurnya seperti itu.

Mengejar Rumah Duka

Oke, masalah surat kematian dan pemulasaran (memandikan) almarhum sudah beres. Kemudian kami pun kembali menghubungi RD. Kami jelaskan pada mereka bahwa almarhum sudah ada surat kematian dan sudah dimandikan serta dibalsem, what else do you want?

RD A menyatakan, "kami siap menerima prosesi pemakaman, dengan syarat, wajib dikremasi dan dilakukan pada hari ini juga paling lambat pukul 14.00". Dan saat itu jam sudah menunjukan pukul 10.00; padahal otopsi dan pemulasaran baru dimulai, dan diperkirakan selesai pukul 12.00-an.

Jelas tidak mungkin memenuhi syarat RD A, tapi untunglah RD B justru menyatakan yang sebaliknya, "harus disemayamkan dulu sehari, karena hari ini sudah penuh, besok langsung dikremasi".

Kami pun mengambil pelayanan dari RD B. Tapi RD B juga tidak semudah itu memberikan ruangan pada kami, mereka menginginkan adanya surat kematian dari otopsi secara fisik. Artinya surat kematian harus dibawa langsung ke kantor RD B, tidak bisa lewat fax ataupun WhatsApp.

Akhirnya begitu surat kematian keluar, kami segala tancap gas ke RD, karena jam sudah menunjukan pukul 14. Setelah proses administrasi, mobil ambulan dari RD menjemput almarhum dari Forensik RSHS sambil membawa peti jenazah. Jadi almarhum dimasukan ke dalam peti di RSHS-nya langsung, dan tidak boleh dibuka lagi.

Mengejar Pelayat

Pukul 17.00 semuanya sudah beres. Peti sudah tiba di RD, saudara-saudara serta teman-teman sudah dikabari tentang berpulangnya ayah gw.

Pada kondisi normal, malam hari biasanya para saudara sudah berkumpul satu per satu. Tapi karena ini bukan kondisi normal, hanya segelintir pelayat yang datang. Bahkan tidak ada satupun saudara dari pihak ayah yang bersedia datang melayat. Kalau dari pihak ibu, hampir semuanya melayat (biarpun diwakili 1 orang 1 keluarga, it's ok). Padahal secara hitungan, keluarga dari pihak ayah jauh lebih banyak daripada pihak ibu.

Sebenarnya tidak hanya kami saja yang sepi pelayat, ruang-ruang duka lain di RD juga sepi pelayat. Kadang hanya ada 1-2 orang di dalam ruangan.

Yah, gw pribadi memaklumi alasan saudara-saudara gw yang tidak melayat karena pandemi. Tapi... tidak ada satupun dari pihak ayah?

Keesokan harinya, tanggal 3 April 2020, pukul 10:00, almarhum pun dikremasi di Cikadut setelah didahului oleh kebaktian penghiburan. Lagi-lagi tanpa dihadiri satupun saudara dari pihak ayah.

Kemudian hari Sabu tanggal 4 April 2020, abu ayah gw pun dilarung di waduk Jati Luhur.

FYI, biaya yang kami keluarkan untuk prosesi di RD dari peti sampai kremasi adalah Rp9,5 juta.

Seriously...

Tujuan dari blog gw kali ini adalah berbagi pengalaman gw yang campur aduk saat meninggalnya ayah gw. Bagaimana rumitnya meminta surat kematian, sulitnya mencari layanan pemulasaran, sulitnya mencari rumah duka, sampai sulitnya mengumpulkan saudara-saudara untuk melayat.

Pada satu sisi, gw mengerti bahwa saat ini kita hidup dalam kondisi yang tidak normal. Yang membuat orang-orang takut tertular, dan lebih berhati-hati pada lingkungannya. Tapi pada sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang menderita ketakutan yang berlebihan, dan mencurigai semua orang menderita Covid-19 (kecuali dirinya). Dan tidak satupun?? WTF??

Padahal jika almarhum adalah PDP atau suspect Covid-19, jangankan prosesi di RD, bahkan kamu semua wajib karantina 14 hari, dan prosesi tidak boleh dihadiri siapapun.

Sekali lagi, pada kondisi tidak normal ini, gw sarankan satu hal lagi, jangan mati! Atau tidak ada satu orang pun yang akan datang melayat /sarkasme.


Cara Menghindari Covid-19, Atau Setidaknya Mengurangi Resiko Tertular

Tuesday, May-05-2020
admin

Cara Menghindari Covid-19, Atau Setidaknya Mengurangi Resiko Tertular

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, ada beberapa cara untuk menghindari atau mengurangi resiko tertular Covid-19. Disini gw mau membahas mengenai cara-cara tersebut lebih dalam.

Mencuci Tangan Dengan Baik dan Benar Selama 20 Detik atau Lebih

Pada dasarnya virus corona adalah benda (bukan mahluk hidup) yang terdiri atas senyawa seperti protein, asam, lipid, karbohidrat yang dibungkus oleh lemak. Seperti yang kita tahu, lemak kalah oleh sabun. Itulah sebabnya kita memakai sabun untuk membersihkan piring bekas makan. Tapi sabun juga membutuhkan waktu untuk bereaksi, setidaknya 20 detik. Untuk itu cucilah tangan dengan teratur selama minimal 20 detik.

Hindari Kontak Dengan Gagang Pintu, Tombol Lift, dsb

Sebenarnya ini masih pro-kontra. Karena biarpun virus bisa hidup di permukaan logam atau plastik sampai berjam-jam tapi apakah konsentrasi & kualitas virus yang masih bertahan cukup untuk menulari manusia?

Itulah salah satu alasan mengapa WHO tidak menyarankan pemyemprotan disinfektan secara luas, karena selain membahayakan manusia, juga efektifitasnya dipertanyakan. Tentu saja ini dikecualikan kalau kita tinggal di daerah yang konsentrasi virusnya luar biasa, seperti di rumah sakit.

Tapi gw pribadi masih menyarankan penyemprotan disinfektan seperti pemutih (Bayclin, Proklin, dsb) di rumah masing-masing, setidaknya pada gagang pintu keluar.

Penggunaan Hand Sanitizer

Perlu diketahui bahwa penggunaan hand sanitizer tidak seefektif cuci tangan dengan sabun, karena hand sanitizer tidak bisa membunuh semua virus yang ada ditangan.

api seperti kata pepatah, "tidak ada rotan, akar pun jadi". Artinya, kalau memang di dekat kamu tidak ada air dan sabun, maka dapat menggunakan hand sanitizer dengan alkohol 70%.

Pengunaan Masker

Saat ini penggunaan masker (kain maupun bedah) sudah diwajibkan di Indonesia. Sementara negara-negara Asia lain seperti Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan sudah lebih awal mewajibkan (dan mendistribusikan) penggunaan masker.

WHO sendiri sudah menyarankan penggunaan masker, biarpun negara-negara barat tidak sepakat bahwa masker dapat melindungi orang sehat. Padahal secara angka, negara-negara barat menderita Covid-19 jauh lebih parah daripada negara-negara Asia.

Masker sendiri lebih berguna untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dari penderita Covid-19 yang tidak memiliki gejala (asymptomatic) dan tidak menyadari dirinya sakit serta dapat menyebarkan virus. Bagi orang sehat (yang benar-benar sehat) penggunaan masker tidak terlalu berguna. Maka agar efektif, semua orang sebaiknya (wajib) memakai masker untuk menekan penularan Covid-19 secara maksimal. 

Jaga Jarak / Social Distancing

Saat kita berbicara dengan orang lain, secara tidak sadar kita suka memercikan ludah biarpun jumlahnya sangat kecil (disebut juga droplet). Droplet inilah yang dapat mengenai orang lain dan menularkan penyakit. Untuk itu lah selain masker, kita juga harus menjaga jarak dengan orang lain, setidaknya 2 meter atau lebih.

Karena itulah pemerintah melarang masyarakat untuk melakukan aktifitas yang mengumpulkan banyak orang, seperti bioskop, mall, acara olah raga, warnet, bahkan kerja. Sebab dikuatirkan saat berkumpul, penderita Covid-19 dapat menyebarkan virusnya melalui droplet.

Selain droplet, ada lagi medium penyebaran lain seperti setuhan tidak langsung (tombol lift, dsb) dan aerosol (droplet yang sangat kecil sehingga dapat melayang di udara). Tapi secara umum kedua faktor tersebut memiliki resiko yang sangat kecil, kecuali di tempat kritis seperti rumah sakit.

Seriously...

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penyebaran Covid-19 dapat ditekan semaksimal mungkin (tapi tidak akan berhenti total), inilah yang disebutkan lowering the curve. Hal ini bukan berarti Covid-19 dapat hilang dengan sendirinya, tapi setidaknya penyebaranya dapat ditekan menjadi selambat mungkin, sehingga tenaga kesehatan dapat menangani setiap pasien Covid-19, sambil menunggu tibanya obat yang super efektif ataupun vaksin.

Tentu saja tindakan ini harus didukung oleh kita semua. Akan percuma pemerintah memberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dan menutup semua tempat usaha, kalau masih ada yang nekat mudik ataupun berkumpul bersama teman-temannya atau melakukan panic buying yang menyebabkan supermarket menjadi super padat.


Covid oh Covid

Friday, May-01-2020
admin

Covid oh Covid

Let's see... blog terakhir gw mengenai keyboard RGB menjadi penutup tahun 2019. Kemudian kita memasuki tahun 2020 dengan optimis, karena angka cantik 20-20. Woohoo!!

Siapa yang menyangka tahun cantik 2020 ternyata berubah menjadi tahun bencana 2020. Selain pandemi Covid-19, secara pribadi gw juga mengalami kejadian pahit lainnya, yaitu: tutupnya warnet gw, dan berpulangnya ayahanda tercinta gw.

Tapi blog kali ini, gw pengen ngomongin Covid-19. Kenapa baru sekarang ngomongin Covid-19? Tentu saja karena gw always late to the party.

Bagi yang tinggal di dalam gua, pasti bertanya apa itu Covid-19?

Covid-19 adalah sejenis virus baru yang menyerang tubuh manusia, virus ini menyerang saluran pernafasan dan paru-paru, sehingga menyebabkan gangguan sesak nafas yang dapat mengakibatkan kematian.

Kenapa namanya Covid-19?

Covid-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019, alias penyakit dari virus korona tahun 2019. Selain Covid-19, virus ini memiliki nama lebih resmi, "SARS-CoV-2", yang secara kasar dapat dibilang virus SARS versi 2.

Virus ini dijuluki virus korona memiliki bentuk berduri-duri seperti mahkota, dan penamaan generik virus korona sebenarnya sudah dipakai juga pada virus-virus lain seperti virus flu biasa, virus SARS, MERS, dsb.

Kapan Covid-19 dimulai?

Kasus Covid-19 pertama kali diidentifikasi sekitar bulan Desember 2019 di Wuhan, saat itu pemerintah Wuhan, China menyatakan adanya pasien pneumonia tanpa sebab jelas.

Pada tanggal 23 Januari, pemerintah Wuhan memutuskan untuk melakukan lockdown kota Wuhan. Lockdown ini berlangsung selama 76 hari sampai tanggal 8 April 2020.

Kapan Covid-19 masuk Indonesia?

Tanggal 2 Maret, Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia, yang berasal dari Depok.

Sejak itu, sampai saat blog ini disusun tanggal 30 April 2020, sudah terdapat 10,118 kasus positif dengan total kematian 792 orang, dan 1522 orang sembuh. Ini diluar angka ODP 230,411 orang dan PDP 21,827 orang.

Apa itu ODP & PDP?

Gw gak tau apakah di luar negeri ada istilah ODP dan PDP, tapi ODP sendiri berarti Orang Dalam Pengawasan. Yaitu orang-orang yang TIDAK memiliki gejala Covid-19 tapi baru pulang dari negeri yang terkena Covid-19, atau pernah kontak dengan pasien positif Covid-19.

Sementara PDP (Pasien Dalam Pengawasan) berarti orang yang memiliki gejala Covid-19, seperti flu, batuk, demam, sesak nafas. Orang ini sudah dirawat (pasien), tapi belum dites Covid-19.

Kemudian ada lagi 'Suspect', yang memiliki gejala Covid-19 dan pernah berinteraksi dengan penderita Covid-19. Pasien ini akan dites menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) dan Genome Sequencing. Hasil kedua tes akan memutuskan apakah dia 'positif' atau tidak.

Karena itu jangan heran kalau kita sering mendengar adanya pasien ODP atau PDP yang tiba-tiba meninggal tanpa diketahui positif atau negatifnya, karena agar bisa dites, dia harus melewati tahapan ODP - PDP - Suspect - Tes 1 - Tes 2. Fuhh...

Memangnya apa gejala Covid-19?

Nah inilah salah satu kerumitan Covid-19. Gejala Covid-19 sampai sekarang masih terlalu awam untuk bisa segera diketahui dengan cepat apakah Covid-19 atau bukan, karena gejalanya sangat mirip dengan flu biasa.

Gejala umumnya adalah: batuk (biasanya kering), demam di atas 38ºC, sesak nafas, lemah.

Gejala lebih spesifik tapi tidak umum: kehilangan kemampuan penciuman dan perasa (maksudnya indera hidung & lidah), diare, mata merah, menggigil

Gejala ini timbul antara 2 sampai 14 hari setelah terkena virus.

Karena gejalanya mirip flu, tidak heran orang yang terkena flu biasa bisa merasa panik & kuatir terkena Covid-19; sementara orang yang terkena Covid-19 malah menganggap flu biasa.

Apakah Covid-19 itu hanya flu biasa?

Biarpun gejalanya mirip flu, tapi Covid-19 sama sekali bukan flu. Covid-19 lebih mematikan daripada flu biasa. Tingkat kematian dari Covid-19 mencapai 5%, padahal flu biasa hanya 0.1%. Sementara tingkat penyebaran flu biasa hanya 1:1.3 (1 orang menyebar ke 1.3 orang), sementara Covid-19 bisa mencapai 2-3x-nya!

Ini tentu saja tergantung wilayah. Seperti kita tahu di Amrik sana, serangan Covid-19 lebih luas dan mematikan daripada negara Asia umumnya.

Kapan Covid-19 akan berakhir?

Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan pandemi ini akan berakhir, ada yang mengatakan tidak akan pernah berakhir, dan dunia akan kiamat (sambil tidak memperhitungkan ada 95% pasien yang sembuh).

Khususnya di Indonesia, ada yang menyatakan bulan Juni-Juli 2020, pandemi ini akan berakhir.

Yang dimaksud adalah berakhirnya pandemi, alias penyebarannya menjadi sangat lambat, jadi bukan berarti hilang 100%. Karena satu-satunya jalan untuk membasmi virus ini 100% hanyalah dengan vaksin.

Apakah ada obat atau vaksin untuk Covid-19?

Sampai saat ini belum ada obat untuk Covid-19. Obat-obatan seperti Remdesivir atau Hydroxychloroquine aslinya merupakan obat untuk virus lain, seperti Ebola, yang konon bisa membantu menyembuhkan Covid-19. Tapi efektifitas dan efek sampingnya masih terus dipertanyakan.

Sementara untuk vaksin sendiri, sampai saat ini masih dalam pengembangan. Konon setidaknya ada 120 vaksin yang sedang dikembangkan, dan (baru) ada 6 vaksin yang sedang diuji klinis.

Bill Gates sendiri menyatakan siap mengeluarkan duit jutaan dolar untuk memproduksi 7 jenis vaksin mulai sekarang, biarpun pada akhirnya mungkin hanya 2-3 vaksin yang dipakai. Ini dikarenakan membuat, menguji dan memproduksi masal vaksin membutuhkan waktu yang lama. Jadi Om Bill berpikir lebih baik membuang jutaan dolar, daripada membuang waktu menunggu vaksin. --biarpun ujung-ujungnya Om Bill dituduh konspirasi jual obat.. halah.

Bagaimana cara paling efektif untuk menghindari Covid-19?

Sebenarnya menghindari Covid-19 ini mudah mudah susah. Cara mudahnya:

  1. Sering cuci tangan dengan sabun selama minimal 20 detik dengan cara yang baik dan benar.
  2. Jika tidak ada sabun dan air, bisa menggunakan hand sanitizer, biarpun tidak akan sebersih sabun.
  3. Jangan memegang muka, mulut, area mata dengan tangan yang belum dicuci!
  4. Gunakan masker saat keluar rumah.
  5. Jaga kesehatan dengan berolah raga teratur dan minum vitamin jika perlu.

Cara yang susahnya?

  1. Jangan atau minimalkan keluar rumah!
  2. Berarti usahakan work from home, study from home, shop from home, date from home (how?)
  3. Jaga jarak dengan orang lain, minimal 2 meter.

Seriously...

Blog agak serius kali ini merupakan bagian pertama dari blog khusus 'Covid'. Pada blog berikutnya gw pengen cerita lebih banyak dari sudut pandang gw pribadi, serta pengalaman-pengalaman gw selama pandemi ini.