Really Late Review of Realme 3 Pro dan Renungan, "Perlukah HP Flagship?"

Sunday, November-03-2019
admin

Really Late Review of Realme 3 Pro dan Renungan, "Perlukah HP Flagship?"

Ok, ok. Realme 3 Pro... hp super jadul keluaran April 2019, ngapain dibahas? Tapi, bersabarlah, karena gw baru beli HP ini bulan kemarin seharga 2,8 juta, dan membuat gw berpikir, apakah kita masih perlu HP flagship dengan harga belasan juta?

Realme 3 Pro (RM3P) yang gw beli memiliki spek lumayan dengan RAM 6 GB, storage 64 GB, layar jumbo 6.3" tanpa poni (waterdrop), dual lens camera, dst, dsb, dll. Hampir semua review sepakat menyatakan bahwa ini adalah HP hebat dengan harga terjangkau. Tidak sehebat atau secanggih iPhone X atau Samsung Galaxy 10 tapi lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dan gw mengakui hal itu.

Setidaknya kalau gw membandingkan dengan hp lama gw: Xiaomi Mi 5, yang dulunya disebut HP flagship-nya Xioami dengan prosesor Qualcomm seri 8-nya. Tapi seiring waktu, bahkan Xiaomi Mi 5 itu tidak bisa membuka aplikasi Grab dan Gojek secara lancar, bahkan kalah lancar dibandingkan Redmi 6 Pro.

Tidak lama setelah memiliki hp itu, teman gw datang menawarkan HP-nya, Samsung Galaxy S9. Dengan fitur-fitur super keren banget seperti layar AMOLED melengkungnya, NFC, kamera lebih tajam, dsb. Tentu saja karena secara spek saja, S9 jauh diatas RM3P.

Tapi gw tidak merasa kelebihan-kelebihan S9 merupakan suatu deal breaker (setidaknya bagi gw). NFC? AMOLED? Kamera lebih tajam? Tentu saja memiliki fitur-fitur itu menyenangkan, tapi apakah sebanding dengan perbedaan harganya yang mencapai 3x RM3P gw?

Hal-hal ini yang pada akhirnya membuat gw berpikir, apakah hp flagship masih relevan saat ini? Mengingat hp-hp terjangkau memiliki fitur-fitur yang dulu hanya ada di flagship, seperti fingerprint, face scanner, dual lens, dan sebagainya.

Tidak (Tidak) Sepadan?

Kalau kita bicara dari sisi fitur saja, jelas HP flag ship terkesan seperti barang mewah yang dipamerkan tanpa fitur yang signifikan. Tidak sedikit HP kelas menengah yang sudah memiliki fitur-fitur kelas atas seperti AMOLED, NFC, in-display finger scanner, popup camera, 90 Hz screen, dsb.

Tapi kita perlu menyadari bahwa fitur-fitur tersebut berasal dari HP-HP kelas atas yang kemudian, seiring dengan waktu, diadopsi oleh HP kelas menengah. Mungkin sebentar lagi muncul HP menengah dengan layar melengkung ala Galaxy S10 (ngarep).

Tentunya fitur-fitur tersebut ada karena vendor melakukan riset, yang sebagian duitnya dibayar oleh HP-HP flagship tersebut. Setelah skala ekonomisnya tercapai, maka fitur-fitur itu bisa diadopsi oleh HP kelas menengah. Well, ini mungkin berarti pengguna HP menengah seperti gw patut berterima kasih pada pembeli HP flagship.

Selain itu, HP flagship juga biasanya memiliki beberapa fitur yang sulit diadopsi ke HP menengah sampai kapanpun, contohnya material seperti gelas, keramik, alumunium bahkan stainless; rasanya sulit membayangkan HP tiga jutaan dilapis oleh stainless steel yang mahal itu.

Seriously...

Inti dari blog kali ini, gw bukan mendorong kamu untuk membeli HP menengah dan mencibir pembeli HP flagship. Melainkan, belilah sesuai kebutuhan. Jika HP menengah sudah mencukupi kebutuhan kamu, tidak perlu memaksakan diri membeli HP flagship.

Tapi kalau memang ada fitur HP flagship yang kamu butuhkan tidak ada di HP menengah, maka HP flagship bisa menjadi pilihan. Lagipula hitung-hitung kamu membantu agar HP menengah bisa semakin bagus.


Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Thursday, July-11-2019
admin

Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Sebenarnya itu hanyalah pertanyaan jebakan betmen. Karena jawabannya adalah, "pilih keduanya!". Alasannya mudah, karena keduanya (sampai saat ini) masih gencar melakukan promo bakar uang. Dan promo yang dilakukan ternyata saling melengkapi. Sehingga sangatlah rugi kalau kita bergantung hanya pada satu aplikasi saja.

Kesimpulan itu gw dapat setelah beberapa kali gonta ganti aplikasi untuk melakukan aktifitas yang hampir sama. Misalnya ketika gw mau ke mall, ternyata biaya tumpangan mobil berbeda antar aplikasi. Juga saat gw memesan makanan, ternyata kedua aplikasi itu memiliki promosi yang berbeda. Sehingga sejak itu, gw selalu mencoba membandingkan sebelum melakukan pemesanan.

Nah, biar gak bingung maksud gw apa, gw coba berikan contoh sebagai berikut.

Transportasi

Hampir tiap minggu gw pergi refreshing ke mall (yah, mall lagi, mall lagi). Untuk menuju sebuah mall terdekat rumah gw, gw bandingkan biayanya:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp11.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp6.000,-

Jelas untuk keberangkatan, gw memilih Go-Jek.

Sementara saat pulang dari mall, kondisinya berbalik:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp4.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp8.000,-

Kenapa bisa begitu? Gw juga gak begitu paham, tapi yang pasti setiap operator memiliki perhitungan sendiri. Bisa saja karena daerah gw termasuk pinggiran yang kurang pengemudi Go-Jek-nya, sehingga perlu diberikan insentif khusus. Tapi yang pasti, dengan gw menggunakan kombinasi Grab & Go-Jek, biaya gw PP rumah-mall, cuma Rp10,000 saja. Lebih murah daripada bayar parkir mobil di mall!

Makanan

Sekarang bagaimana dengan makanan? Untuk saat ini, secara umum Grab Food lebih menguntungkan daripada Go-Food! Setidaknya untuk kota Bandung.

Gak perlu susah-susah membandingkan, terakhir gw pesan menu Grab Food, mereka memberikan diskon sampai dengan 60% (maksimal Rp80.000,-). Sementara Go-Food? Diskon terbesar akhir-akhir ini yang diberikan hanya Rp8.000,- itupun harus memakai Go-Pay.

Tapi, jangan buru-buru menghapus Go-Food. Kelebihan utama Go-Food adalah daftar merchant-nya yang sangat banyak. Rumah makan kecil depan rumah gw aja terdaftar di Go-Food. Sementara Grab lebih menyasar merchant-merchant yang sudah memiliki nama.

Pembayaran

Ini yang saat ini lagi rame, dapat dibilang 'the real war'. Grab Pay vs Go-Pay. Sayangnya, Grab Pay tidak ada di Indonesia, dan diganti oleh Ovo.

Go-Pay secara umum diterima lebih luas oleh merchant. Hampir semua merchant yang menerima OVO, juga menerima Go-Pay. Tapi tidak sebaliknya. Banyak merchant yang hanya menerima Go-Pay secara eksklusif. Bahkan Go-Pay masuk ke Lotte Mart, yang menyediakan kasa khusus Go-Pay; tapi tidak menerima OVO.

Tapi kembali lagi, promo yang disediakan OVO maupun Go-Pay terbatas untuk setiap merchant. Misalnya merchant A memberikan diskon 20%, maksimal Rp15,000,-, dan maksimal per bulan Rp30,000,-. Strategi ini dijalankan oleh keduanya. Sehingga untuk hasil lebih maksimal, sebaiknya menggunakan Go-Pay & OVO secara bergantian.

Seriously…

Inti dari tulisan kali ini adalah, jadilah konsumen yang cerdas, dan jangan sampai terpaku pada satu operator saja. Jika ada yang lebih menguntungkan, mengapa tidak diambil?

Suatu saat promo bakar uang tiap operator pasti selesai, pada saat itulah kita harus lebih bijaksana memilih operator yang lebih menguntungkan. Tapi untuk saat ini, nikmati saja promo setiap operator!


I Know Gun-Fu 3

Sunday, May-26-2019
admin

I Know Gun-Fu 3

Film tanpa cerita jelas dan tanpa plot serius favorit gw is back! Yes, Baba Yaga 3: Parabellum.

Cerita John Wick 3 ini dimulai tidak lama setelah akhir John Wick (JW) 2, setelah John Wick (Keanu Reeves) dinyatakan 'excommunicado' (diusir) dari High Table, organisasi pembunuh tempat kerja John Wick. Dengan berlakunya 'excommunicado' dan dipasang tarif $14 juta untuk kepalanya, maka praktis semua pembunuh dari penjuru dunia berdatangan ke New York untuk membunuh John Wick. Termasuk sebuah klan Ninja pimpinan Zero (Mark Dacasos) yang memiliki dua orang murid (Yayan Ruhian & Cecep Arif Rahmat).

Sementara, siapapun yang membantu John Wick dapat dikenai sangsi berat, termasuk Winston & Bowery King yang pada JW2 membantu John Wick.

Setelah berjuang sana-sini, akhirnya John Wick berhasil mencapai Casablanca, Morocco untuk meminta bantuan Sofia (Halle Berry) untuk bertemu dengan The Elder, yaitu big bos dari segala big bos-nya High Table. Tujuan John Wick adalah mencari solusi agar dia bisa hidup dengan tenang.

Tak dinyana, Elder bersedia membiarkan John Wick hidup jika Wick bersedia membunuh Winston yang dianggapnya telah membangkang High Table.

Senang Bertemu denganmu Mister Wick

Review ini singkat saja, mungkin dapat dibilang mengulang review gw mengenai JW: Chapter 2. Jadi untuk review lebih mendalamnya, dapat dibaca ulang review gw soal JW2.

Film ini dibuka dengan aksi pertempuran tangan kosong paling keren yang pernah gw lihat sepanjang tahun (sejak JW2). Pertarungan terasa brutal, realistis dan mencekam tapi terasa sangat artistik dan indah. Sulit digambarkan, "unfortunatelly, no one can be told what gun-fu is, you must see it for yourself!". Apalagi sekarang ditambah dengan datangnya petarung-petarung dari luar negeri yang membawa ilmu bela diri sendiri.

Tentu saja bagi penonton di Indonesia, aksi Yayan Ruhian & Cecep Arif Rahmat menjadi adegan yang ditunggu-tunggu. Dan hasilnya tidak mengecewakan, bagaimana dua orang jago pencak silat melawan seorang John Wick yang ahli dengan jujitsu-nya. Apalagi sutradara JW, Chad Stahelski, memasukan beberapa dialog bahasa Indonesia dalam film ini. Dan yang lebih baik lagi, ternyata aksi Mang Yayan cs tidak sekedar lewat, melainkan memiliki porsi yang cukup banyak dan cukup penting.

JW3 juga memperluas dunia Wick, seperti diperkenalkannya hotel serupa Hotel Continental di Morocco, kemudian fungsi Hotel Continental yang ternyata tidak hanya sebagai oase pada pembunuh saja, kemudian penggunaan anjing sebagai mesin pembunuh, dan sebagainya.

Sampai Jumpa

Seperti yang sudah dibahas, film ini memang ditujukan bagi penggemar film aksi 'realistis' tanpa mengandalkan perang CGI ataupun monster CGI. Dapat dibilang cukup 'old school', biarpun bukan berarti tanpa CGI. Bagi penggemar film aksi dengan cerita yang mudah diikuti, wajib banget nonton JW3 ini. Bagi yang mencari film dengan cerita lebih berbobot, tidak ada salahnya mencoba menontonnya juga, istilahnya mindless fun?

Rating: 75%! Sampai jumpa di John Wick 4!