Review Keyboard Mekanik Cougar Ultimus RGB

Thursday, December-12-2019
admin

Review Keyboard Mekanik Cougar Ultimus RGB

Selama ini gw memakai membrane keyboard, alias keyboard kelas pasaran, yang paling umum dipakai di seantero jagat. Keyboard yang gw pake selama ini adalah Logitech MK700 (wireless) yang sudah berumur 7 tahun. Yep, TUJUH tahun. SEVEN memorable years!

Jujurnya selama gw memakai keyboard itu, ya fine-fine aja lah. Gw gak merasa ada yang kurang atau tidak akurat atau tidak empuk. Semua terasa 'normal'.

Berhubung keyboard gw sudah seumuran keponakan gw, akhirnya gw pikir untuk mengganti keyboard itu. Apalagi saat gw mencoba keyboard baru murah meriah untuk warnet gw, kok terasa tombolnya lebih mantap daripada keyboard gw. Setelah gw cari-cari, akhirnya gw memutuskan untuk mencoba mechanical keyboard, alias keyboard mekanik.

Apa itu Keyboard Mekanik?

Keyboard yang umumnya kita pakai --tidak hanya yang murah meriah, tapi termasuk yang berharga jutaan -- biasanya bertipe membran.

Disebut keyboard membran karena jika kita buka keyboard-nya, biasanya didalamnya terdapat 3 lembar plastik besar (membran). Membran paling atas akan menekan membran di bawahnya, yang menghasilkan arus singkat yang diteruskan ke PC.

Komponen keyboard membran benar-benar sederhana, tidak ada per, tuas, atau apapun yang menopang tombol keyboard. Tombol keyboard bisa kembali ke atas karena tekanan karet pada membran paling atas. Itulah sebabnya tombol keyboard membran terasa agak lembek.

Sementara pada keyboard mekanik, setiap tombol keyboard memiliki 'switch' atau saklar kecil yang didalamnya terdapat per kecil.

Efeknya keyboard mekanik terasa lebih 'renyah' dan konon memiliki reaksi yang lebih cepat daripada keyboard membran, terutama untuk gaming. Kelemahannya, selain harganya lebih mahal, adalah suara klik-kliknya yang cukup berisik, terutama untuk 'blue switch'.

Keyboard mekanik memang memiliki beberapa tipe switch, seperti Cherry MX Blue, Cherry MX Red, Romer G, Kaihl Black, dsb. Masing-masing switch memiliki ciri khas sendiri, seperti Cherry MX Blue yang paling berisik diantara yang lain tapi paling nyaman untuk mengetik. Atau Cherry MX Red yang paling ringan cocok untuk gaming.

Popularitas Keyboard Mekanik

Pada awal-awal mulai merebaknya PC, keyboard yang digunakan biasanya bertipe mechanical. Gw masih inget PC pertama yang gw miliki adalah IBM PC XT Compatible (merknya Magnum? Mugen?), keyboardnya terasa mantap dan berat banget.

Seiring waktu, vendor PC berusaha menekan harga suku cadang PC, dan salah satunya adalah keyboard. Vendor mulai mengganti keyboard mekanik dengan keyboard membran yang lebih murah dan ringan.

Tapi, bukan berarti keyboard mekanik lantas menghilang begitu saja. Para pemuja setia keyboard mekanik tetap memperjuangkan keberadaannya. Dan dibantu oleh game streamer yang membantu mempopulerkan kembali keyboard ini, sehingga lahir kembali menjadi 'keyboard elitis'.

Kembali ke Keyboard

Keyboard mekanik yang akhirnya gw pilih adalah Cougar Ultimus RGB dengan body full metal super berat yang cocok buat melempar tikus sampai modar. Gw sendiri gak terlalu peduli dengan RGB, tapi karena umumnya keyboard mekanik ditujukan untuk gamer yang konon suka bling-bling, maka dengan terpaksa gw memilih RGB.

Tipe switch yang gw pilih adalah blue switch. Walaupun tidak dicantumkan pabriknya, tapi beberapa orang mengatakan ini adalah switch dari Cherry MX, biarpun ada juga yang mengatakan switch buatan sendiri. Review lebih profesional bisa dilihat disini.

Secara keseluruhan gw cukup puas dengan keyboard ini. Harganya yang cukup terjangkau (waktu itu gw beli Rp700.000-an di Toped), bodi full metal yang konon bisa bertahan lebih lama daripada Logitech gw, dan lampu RGB-nya yang tidak membutuhkan software khusus. Gw sendiri gak bisa ngomong apakah keyboard ini lebih baik atau tidak dibandingkan dengan keyboard mekanik yang lebih mahal atau lebih murah.

Mungkin kekurangan keyboard ini adalah tidak adanya tombol macro maupun tombol multimedia terpisah (harus menekan tombol Fn). Setidaknya keyboard lama gw memiliki tombol media yang lebih mudah diakses. Oh, keyboard ini juga tidak memiliki wrist rest, sehingga gw harus membeli secara terpisah.

Tapi mengingat harganya yang relatif murah, semua kekurangan itu bisa gw maklumi, apalagi keyboard ini tetap memiliki numeric keypad terpisah yang berguna saat gw memasukan angka pada MS Excel.

Kembali ke Judul

Setelah sebulan lebih gw memakai keyboard mekanik, gw memiliki beberapa kesan.

  1. Suaranya lebih nyaring daripada yang gw dengar di Youtube. Tidak seperti di video-video Youtube mengenai blue switch, suaranya tidak terlalu 'bass' malah agak cempreng. Kecuali tombol Enter dan Backspace yang mirip suara senapan mesin dalam film-film.

  2. Yang pasti suaranya memang nyaring banget. Keyboard Logitech lama gw relatif tidak bersuara, sementara keyboard ini bisa terdengar sampai kamar sebelah. Gw tidak menyarankan penggunaan keyboard ini di kantor atau tempat sunyi yang banyak orang. Gak heran kalau banyak tempat kerja atau sekolah yang melarang keyboard mekanik.

  3. Suaranya bagi sebagian orang terasa sangat mengganggu dan membuat mereka ingin membanting keyboard. Tapi bagi orang lain (termasuk gw), terasa sangat menyenangkan, dan membuat gw ingin mengetik dengan keyboard ini biarpun PC-nya mati.

  4. Pada hari-hari pertama gw memakai keyboard ini, terasa agak aneh, karena terasa terlalu ringan dan mudah membuat kesalahan. Ini karena keyboard mekanik memiliki actuation force (kekuatan yang dibutuhkan untuk menekan tombol) relatif lebih rendah dibandingkan membrane. Sehingga gw yang biasa meletakan jari diatas keyboard lama gw, sekarang tidak bisa bebas meletakan jari, dan harus agak ditahan.

  5. Setelah beberapa hari kemudian, gw baru merasa keyboard membrane lama gw terasa benar-benar lembek dan keras untuk digunakan, dan berpikir, bahwa selama ini gw memakai keyboard yang tidak menyenangkan, yang kadang membuat tangan gw pegal.

  6. Setelah sebulan, gw berjanji untuk hanya menggunakan keyboard mekanik selamanya...... jika memang tersedia (dananya).

Seriously...

Saran gw bagi kamu yang sedang mempertimbangkan untuk membeli keyboard mekanik, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai keyboard ini, terutama tipe-tipe switch. Karena beda switch, beda 'feel' dan target penggunanya.

Kemudian, jika memungkinkan, cobalah keyboard mekanik di toko-toko komputer terdekat.

Terakhir, ingatlah, biarpun banyak pengguna yang sudah bertobat dan bersumpah atas nama keyboard mekanik, bukan berarti keyboard mekanik adalah keyboard terbaik untuk semua orang. Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda, semisal kondisi ekonomi, kondisi tempat kerja, kebutuhan ketenangan ruangan, koneksi keyboard (umumnya keyboard mekanik menggunakan kabel.... demi gaming). Sehingga pada akhirnya keyboard terbaik tetap adalah keyboard yang sesuai dengan kebutuhan kamu dan bukan sebaliknya.

Sumber gambar animasi: https://sitesdoneright.com/blog/2013/02/why-my-mechanical-computer-keyboard-is-better-than-your-keyboard 


Really Late Review of Realme 3 Pro dan Renungan, "Perlukah HP Flagship?"

Sunday, November-03-2019
admin

Really Late Review of Realme 3 Pro dan Renungan, "Perlukah HP Flagship?"

Ok, ok. Realme 3 Pro... hp super jadul keluaran April 2019, ngapain dibahas? Tapi, bersabarlah, karena gw baru beli HP ini bulan kemarin seharga 2,8 juta, dan membuat gw berpikir, apakah kita masih perlu HP flagship dengan harga belasan juta?

Realme 3 Pro (RM3P) yang gw beli memiliki spek lumayan dengan RAM 6 GB, storage 64 GB, layar jumbo 6.3" tanpa poni (waterdrop), dual lens camera, dst, dsb, dll. Hampir semua review sepakat menyatakan bahwa ini adalah HP hebat dengan harga terjangkau. Tidak sehebat atau secanggih iPhone X atau Samsung Galaxy 10 tapi lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dan gw mengakui hal itu.

Setidaknya kalau gw membandingkan dengan hp lama gw: Xiaomi Mi 5, yang dulunya disebut HP flagship-nya Xioami dengan prosesor Qualcomm seri 8-nya. Tapi seiring waktu, bahkan Xiaomi Mi 5 itu tidak bisa membuka aplikasi Grab dan Gojek secara lancar, bahkan kalah lancar dibandingkan Redmi 6 Pro.

Tidak lama setelah memiliki hp itu, teman gw datang menawarkan HP-nya, Samsung Galaxy S9. Dengan fitur-fitur super keren banget seperti layar AMOLED melengkungnya, NFC, kamera lebih tajam, dsb. Tentu saja karena secara spek saja, S9 jauh diatas RM3P.

Tapi gw tidak merasa kelebihan-kelebihan S9 merupakan suatu deal breaker (setidaknya bagi gw). NFC? AMOLED? Kamera lebih tajam? Tentu saja memiliki fitur-fitur itu menyenangkan, tapi apakah sebanding dengan perbedaan harganya yang mencapai 3x RM3P gw?

Hal-hal ini yang pada akhirnya membuat gw berpikir, apakah hp flagship masih relevan saat ini? Mengingat hp-hp terjangkau memiliki fitur-fitur yang dulu hanya ada di flagship, seperti fingerprint, face scanner, dual lens, dan sebagainya.

Tidak (Tidak) Sepadan?

Kalau kita bicara dari sisi fitur saja, jelas HP flag ship terkesan seperti barang mewah yang dipamerkan tanpa fitur yang signifikan. Tidak sedikit HP kelas menengah yang sudah memiliki fitur-fitur kelas atas seperti AMOLED, NFC, in-display finger scanner, popup camera, 90 Hz screen, dsb.

Tapi kita perlu menyadari bahwa fitur-fitur tersebut berasal dari HP-HP kelas atas yang kemudian, seiring dengan waktu, diadopsi oleh HP kelas menengah. Mungkin sebentar lagi muncul HP menengah dengan layar melengkung ala Galaxy S10 (ngarep).

Tentunya fitur-fitur tersebut ada karena vendor melakukan riset, yang sebagian duitnya dibayar oleh HP-HP flagship tersebut. Setelah skala ekonomisnya tercapai, maka fitur-fitur itu bisa diadopsi oleh HP kelas menengah. Well, ini mungkin berarti pengguna HP menengah seperti gw patut berterima kasih pada pembeli HP flagship.

Selain itu, HP flagship juga biasanya memiliki beberapa fitur yang sulit diadopsi ke HP menengah sampai kapanpun, contohnya material seperti gelas, keramik, alumunium bahkan stainless; rasanya sulit membayangkan HP tiga jutaan dilapis oleh stainless steel yang mahal itu.

Seriously...

Inti dari blog kali ini, gw bukan mendorong kamu untuk membeli HP menengah dan mencibir pembeli HP flagship. Melainkan, belilah sesuai kebutuhan. Jika HP menengah sudah mencukupi kebutuhan kamu, tidak perlu memaksakan diri membeli HP flagship.

Tapi kalau memang ada fitur HP flagship yang kamu butuhkan tidak ada di HP menengah, maka HP flagship bisa menjadi pilihan. Lagipula hitung-hitung kamu membantu agar HP menengah bisa semakin bagus.


Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Thursday, July-11-2019
admin

Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Sebenarnya itu hanyalah pertanyaan jebakan betmen. Karena jawabannya adalah, "pilih keduanya!". Alasannya mudah, karena keduanya (sampai saat ini) masih gencar melakukan promo bakar uang. Dan promo yang dilakukan ternyata saling melengkapi. Sehingga sangatlah rugi kalau kita bergantung hanya pada satu aplikasi saja.

Kesimpulan itu gw dapat setelah beberapa kali gonta ganti aplikasi untuk melakukan aktifitas yang hampir sama. Misalnya ketika gw mau ke mall, ternyata biaya tumpangan mobil berbeda antar aplikasi. Juga saat gw memesan makanan, ternyata kedua aplikasi itu memiliki promosi yang berbeda. Sehingga sejak itu, gw selalu mencoba membandingkan sebelum melakukan pemesanan.

Nah, biar gak bingung maksud gw apa, gw coba berikan contoh sebagai berikut.

Transportasi

Hampir tiap minggu gw pergi refreshing ke mall (yah, mall lagi, mall lagi). Untuk menuju sebuah mall terdekat rumah gw, gw bandingkan biayanya:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp11.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp6.000,-

Jelas untuk keberangkatan, gw memilih Go-Jek.

Sementara saat pulang dari mall, kondisinya berbalik:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp4.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp8.000,-

Kenapa bisa begitu? Gw juga gak begitu paham, tapi yang pasti setiap operator memiliki perhitungan sendiri. Bisa saja karena daerah gw termasuk pinggiran yang kurang pengemudi Go-Jek-nya, sehingga perlu diberikan insentif khusus. Tapi yang pasti, dengan gw menggunakan kombinasi Grab & Go-Jek, biaya gw PP rumah-mall, cuma Rp10,000 saja. Lebih murah daripada bayar parkir mobil di mall!

Makanan

Sekarang bagaimana dengan makanan? Untuk saat ini, secara umum Grab Food lebih menguntungkan daripada Go-Food! Setidaknya untuk kota Bandung.

Gak perlu susah-susah membandingkan, terakhir gw pesan menu Grab Food, mereka memberikan diskon sampai dengan 60% (maksimal Rp80.000,-). Sementara Go-Food? Diskon terbesar akhir-akhir ini yang diberikan hanya Rp8.000,- itupun harus memakai Go-Pay.

Tapi, jangan buru-buru menghapus Go-Food. Kelebihan utama Go-Food adalah daftar merchant-nya yang sangat banyak. Rumah makan kecil depan rumah gw aja terdaftar di Go-Food. Sementara Grab lebih menyasar merchant-merchant yang sudah memiliki nama.

Pembayaran

Ini yang saat ini lagi rame, dapat dibilang 'the real war'. Grab Pay vs Go-Pay. Sayangnya, Grab Pay tidak ada di Indonesia, dan diganti oleh Ovo.

Go-Pay secara umum diterima lebih luas oleh merchant. Hampir semua merchant yang menerima OVO, juga menerima Go-Pay. Tapi tidak sebaliknya. Banyak merchant yang hanya menerima Go-Pay secara eksklusif. Bahkan Go-Pay masuk ke Lotte Mart, yang menyediakan kasa khusus Go-Pay; tapi tidak menerima OVO.

Tapi kembali lagi, promo yang disediakan OVO maupun Go-Pay terbatas untuk setiap merchant. Misalnya merchant A memberikan diskon 20%, maksimal Rp15,000,-, dan maksimal per bulan Rp30,000,-. Strategi ini dijalankan oleh keduanya. Sehingga untuk hasil lebih maksimal, sebaiknya menggunakan Go-Pay & OVO secara bergantian.

Seriously…

Inti dari tulisan kali ini adalah, jadilah konsumen yang cerdas, dan jangan sampai terpaku pada satu operator saja. Jika ada yang lebih menguntungkan, mengapa tidak diambil?

Suatu saat promo bakar uang tiap operator pasti selesai, pada saat itulah kita harus lebih bijaksana memilih operator yang lebih menguntungkan. Tapi untuk saat ini, nikmati saja promo setiap operator!