Angry Birds Movie

Angry Birds Movie

Pada hari Selasa kemarin, saya ama istri menyempatkan diri untuk nonton Angry Birds Movie (ABM), sebenernya kami pengennya nonton Avengers 2,5: Civil War, tapi karena banyak halangan, akhirnya lewat deh masa tayangnya, dan diganti ABM.

Yang mengejutkan, ternyata antrian penonton di bioskop langganan cukup panjang. Padahal hari biasa menjelang akhir bulan. Konon sih karena sudah mulai musim liburan, biarpun kalo saya liat di kalender akademik kayaknya belum masuk liburan.

Kembali ke film, seperti yang udah kita tahu, ABM diangkat dari sebuah mobile game dengan judul sama, Angry Birds. Dalam game dikisahkan segerombolan babi mencuri telur-telur milik para burung yang gak bisa terbang. Dan para burung itu menjadi marah dan berusaha merebut telur-telur mereka dengan cara menabrakan diri mereka ke bangunan-bangunan milik para babi. Biarpun saya gak yakin harakiri adalah cara terbaik untuk mengembalikan telur mereka, tapi game ini bener-bener populer, sampai muncul entah berapa belas spin off-nya, bahkan serial TV.

Rovio selaku pengembang game melihat potensi menguntungkan dibalik kesuksesan game mereka, dan memutuskan untuk membuat film dengan judul yang sama.

Angry Story

Cerita ABM dimulai dengan pengenalan para karakternya, dibuka dengan perkenalan kita dengan Red, tokoh utama dalam game dan film ini. Red adalah burung yang temperamen, mudah tersinggung dan marah. Sampai satu saat, dia diperintahkan untuk mengikuti kelas manajemen emosi. Disana ia berkenalan dengan karakter lainnya, yaitu  Chuck alias si burung kilat, Bomb alias burung yang bisa meledak, Matilda alias burung yang bisa mengeluarkan 'sesuatu' dari <sori> pantatnya, dan Terence alias si raksasa.

Agak lama setelah perkenalan itu, tibalah para babi di pulau burung. Mereka datang dengan pesan perdamaian, dan mempromosikan persahabatan. Red yang mencurigai maksud para babi, dicemooh oleh para penghuni pulau burung dan disingkirkan para babi. Sampai akhirnya terbukti bahwa kedatangan para babi adalah untuk mencuri telur para burung untuk dijadikan santapan lezat bergizi dan sehat.

Setelah para burung menyadari kesalahan mereka, mereka meminta bantuan pada Red untuk merebut kembali telur mereka. Tentu saja bukan Angry Birds kalo gak ada kejadian penghancuran bangunan para babi. Dan itu disuguhkan di film ini pada menit-menit terakhir.

Angry Audiences

Konsep film ini sebenernya cukup menarik. Saya gak menyangka bahwa plot dari mobile game yang sangat sederhana dapat menjadi film dengan durasi 97 menit. Dan adaptasinya saya rasa cukup baik, gak terlalu memaksakan seperti film dari game lainnya (uh, Resident Evil).

Hanya saja, alur cerita film ini bener-bener amat sangat lambat! Lebih dari sejam kita disuguhkan fakta yang sudah kita ketahui: Red itu pemarah dan para babi itu ingin mencuri telur. Hal yang sama terus menerus diulang, entah berapa kali Red mengatakan "babi itu mencurigakan". Penonton sudah tahu itu, gak perlu diulang-ulang terus.

Kemudian joke-joke yang dilontarkan juga terkesan random banget. Kadang saya merasa adegannya dipaksakan ada untuk joke. Dan banyak joke-nya yang merupakan verbal joke, yang gak dimengerti oleh anak-anak. Sepanjang film, saya bisa menghitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali anak-anak tertawa melihat film ini.

Dan terakhir, adegan penghancuran markas para babi. Adegan penghancurannya sendiri cukup kolosal, tapi sangat singkat! Katanya ada ratusan burung yang mendatangi markas babi, tapi yang membombardir bangunan itu hanya 4-5 ekor saja, sisanya hanya menonton dengan alasan katapelnya rusak. How convenient!

Seriously

Secara pribadi saya kurang menikmati film ini. Saya masih lebih suka film animasi Kung Fu Panda 3 yang jokenya lebih masuk secara natural, banyak visual joke-nya, dan ceritanya tidak bertele-tele.

Rating saya: 50%
- kalau buat anak kecil kayaknya bakal sangat membosankan
- untuk orang dewasa, apalagi...


Posted By: admin
Posted On: May-25-2016 @ 01:05am
Last Updated: Jun-06-2016 @ 12:50am

There is no comment

More Comments/Post Your Own