Hidup Tronjal Tronjol! Seputaran Quick Count, Exit Polls & Kejujuran Pemilu

Hidup Tronjal Tronjol! Seputaran Quick Count, Exit Polls & Kejujuran Pemilu

Akhirnya (salah satu) masa-masa paling tidak menyenangkan bagi para pengusaha pun lewat juga. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah Pemilu 2019. Kenapa pengusaha tidak suka dengan pemilu? Bukannya gak suka sih, tapi umumnya pengusaha gak terlalu tertarik dengan politik. Selama akhirnya yang dipilih menjadi pemimpin bukanlah diktator macam "Kim Jon Un", ya biarin lah siapa pun jadi presidennya.

Tapi tetap saja, para pendukung dari ketiga pihak capres (01 - Jokowi, 02 - Prabowo, dan 10 - Pilihan Gw, Nurdin Aldo) ternyata masih saja panas biarpun sudah saling colok pilihannya sesuai selera. Namanya juga orang, "pokoknya pilihan gw paling benar, elo salah, sampai kapanpun salah!".

BTW, sampai blog ini ditulis, hasil Quick Count 5 lembaga survei paling top di Indonesia sudah menyatakan kubu 01 sebagai pemenangnya dengan perolehan sekitar 55% vs 45%. Sementara kubu 02 tidak semudah itu percaya klaim Quick Count.

Nah, disini gw pengen ngomongin soal survei, exit polls, quick count, dan celah-celah kecurangan yang mungkin terjadi.

Survei

Survei Pemilu umumnya dilakukan sebelum hari Pemilu. Biasanya survei dilakukan melalui tatap muka (wawancara) ataupun via telepon. Karena sifat survei adalah terbuka dan suka rela, maka responden berhak menjawab dengan "tidak tahu", ataupun "rahasia". Bahkan responden bisa saja berbohong, menjawab pilih 10 tapi saat pencoblosan malah memilih 69.

Untuk itulah akurasi survei cukup rendah. Sudah beberapa kali hasil survei berbeda jauh dengan hasil pemilu akhir.

Exit Polls

Exit Polls sebenarnya gak beda jauh dengan survei, bedanya exit polls dilakukan pada hari pencoblosan. Responden yang sudah mencoblos dan meninggalkan lokasi TPS ditanyai oleh lembaga survei.

Kembali lagi, karena sifatnya suka rela, maka responden bisa jujur, bisa bohong atau tidak menjawab. Karena itulah hasil exit polls belum tentu akurat.

Quick Counts

Quick Count (QC) adalah sistem 'survei paksa'. Prosedur QC adalah lembaga survei mengirimkan petugas mereka ke TPS-TPS terpilih, dan disana petugas tersebut mencatat hasil perhitungan suara, dan mengirimkan hasilnya ke pusat.

Karena sistemnya mengambil dari hasil perhitungan suara, maka biasanya hasil QC adalah benar. Tentu saja, bukan berarti QC 100% akurat, karena ada beberapa kejadian juga ternyata QC meleset. Akurasi QC sangat tergantung dengan kualitas pemilihan sample, dan jumlah sample-nya. Umumnya sample QC berkisar sekitar 2000-3000 TPS.

Tentu saja jumlah sample ini sering menjadi pro-kontra QC, karena jumlah TPS Pemilu 2019 sendiri mencapai 800,000 TPS. Tentu saja jumlah sample yang hanya 0,3% dari jumlah total TPS menjadi pertanyaan. Tapi kembali lagi, pengambilan sample TPS ini tidak dilakukan secara asal-asalan, melainkan melalui skema yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu statistik. Mungkin kalau diibaratkan, QC mirip dengan cek darah di laboratorium untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita. Bukan berarti hanya karena hanya setetes darah yang diambil, maka hasil lab tidak bisa dipercaya kan?

Kecurangan?

Pertanyaan berikutnya, apakah mungkin hasil survei, exit polls, QC apalagi real count dicurangi? Jawabannya tentu saja, mungkin!

Apalah artinya sampel yang cuma 2000-an TPS? Sangat mudah untuk melakukan kecurangan. Tapi beda lagi dengan real count.

Real count sendiri lebih sulit untuk dicurangi. Salah satu alasan terbesarnya adalah "keterbukaan data KPU". Data hasil Pemilu 2019 bisa dilihat melalui situs KPU, yang tidak hanya bisa dilihat hasilnya, tapi juga bisa di-drill down sampai per TPS.

Dengan sistem drill down, kita bisa melihat hasil Pemilu per kota, per kabupaten, per kecamatan bahkan sampai per TPS terdekat. Contohnya untuk, misalnya kota Jakarta, kita bisa melihat sampai ke TPS 01, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk itulah gw sangat menyarankan untuk mencari TPS yang paling dekat dengan kamu, dan cocokkan hasilnya dengan data KPU.

Jika data KPU tidak bisa dipercaya, kita juga bisa memeriksa hasil dari tim independen di kawalpemilu.org. Situs independen ini memuat data dari formulir C1 yang dikirimkan oleh relawan seluruh Indonesia.

Gw sendiri kurang menyarankan untuk membaca data dari situs-situs yang hanya menawarkan total hasil akhir yang tidak bisa di-drill down, mengapa? Karena kita tidak bisa memeriksa kesahihan data per TPS.

Tapi apakah bisa secara keseluruhan Pemilu berlangsung curang dari atas sampai bawah? Well, secara teori konspirasi bisa saja. Tapi bisa dibayangkan jumlah orang yang terlibat. Dengan jumlah TPS mencapai 800,000 TPS, berapa banyak orang yang harus diajak bekerja sama?

Misalnya melibatkan 10% TPS saja, berarti ada 80,000 TPS yang harus dikongkalikong. Karena setiap TPS terdapat 7 petugas, berarti setidaknya ada 560,000 orang yang harus ditutup mulutnya. Itu baru 10% TPS, bagaimana kalau 20%? 30%?

Seriously…

Perlu diingat, blog ini bukan blog politik. Gw sendiri pendukung capres #10, yang gw yakin pasti menang 99,99%; tapi hasil QC menyatakan berbeda. Apa boleh buat, gw terima hasilnya dengan dada terbuka. Gw harap menang atau kalah, kita harus tetap ingat tujuan dan cita-cita yang lebih besar, yaitu menjadikan Indonesia semakin Tronjal Tronjol Maha Asyik!


Posted By: admin
Posted On: Apr-30-2019 @ 09:00pm
Last Updated: Apr-30-2019 @ 10:23pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own