Jangan ̷M̷a̷t̷i̷ Meninggal Saat Covid-19!

Jangan  ̷M̷a̷t̷i̷ Meninggal Saat Covid-19!

Pada hari Kamis, 2 April 2020, sekitar pukul 02 dini hari, ayah gw beristirahat dengan tenang untuk selamanya. Ayah gw memang sudah cukup lama menderita sakit, yang sampai detik ini tidak ada satu dokter pun di Bandung yang bisa dengan tegas menyatakan sakit apa. Entah karena keterbatasan pengetahuan kedokteran atau alasan lainnya.

Dokter A mengatakan sakit TBC-nya kambuh. Dokter B mengatakan maag-nya mengeluarkan gas yang menekan paru-parunya sehingga mengurangi kemampuan bernafas. Dokter C mengatakan paru-parunya mengecil, karena faktor usia. Dokter D hanya mengatakan penyakit tua. Karena memang ayah gw sudah berumur 80 tahun, dan sering sesak nafas.

Yang pasti pada hari itu, ayah gw berpulang di rumahnya (ayah gw tinggal bersama ibu dan keluarga kakak gw). Mendengar kabar tersebut, gw segera ke rumah ayah yang tidak jauh dari rumah gw. Kemudian gw dan kakak gw mencoba menghubungi beberapa rumah sakit untuk meminta surat kematian. Surat kematian ini diperlukan agar kami dapat mengurus pemakaman atau kremasi.

Mengejar Surat Kematian

Pada keadaan normal, permintaan surat kematian ini cukup mudah, tinggal menghubungi dokter umum terdekat dengan biaya sekitar Rp100,000-an. Tapi pada keadaan pandemi ini, tidak ada yang normal apalagi mudah & murah.

Semua rumah sakit yang kami hubungi menolak menerbitkan surat kematian apalagi memandikan almarhum. RS A beralasan, "biasanya langsung ke rumah duka". RS B beralasan, "maaf, sedang penuh". RS C beralasan, "sedang tidak menerima kematian non pasien". RS D yang konon merupakan rumah sakit kepolisian rujukan Covid-19 beralasan, "kemarin kami menerima kasus yang ternyata Covid-19, jadi kami sekarang tidak menerima dari luar".

Kami pun mencoba menghubungi rumah duka (RD). Semua RD menolak, karena menurut mereka prosedur-nya sekarang RD hanya menerima jenazah dalam keadaan sudah dimandikan dan dalam peti tertutup.

Menghubungi puskemas terdekat? Apalagi! Belum apa-apa, mereka menuduh kita suspect Covid-19, dan langsung diusir dari puskesmas! Meminjam mobil ambulan pun ditolak. Tapi untunglah salah satu pegawai gw berinisiatif meminjam mobil ambulan dari kelurahannya dengan mengatasnamakan keluarganya sendiri.

Biarpun mobil ambulan datang, kami belum mengetahui mau dibawa kemana almarhum. Tadinya gw pikir bawa saja ke rumah sakit terdekat, toh kalo sudah di sana, mereka tidak akan menolak (?). Tapi sopir ambulan memberikan usul lain, "bawa ke RSHS!". Sebagai rumah sakit rujukan Covid-19, seharusnya RSHS bisa memberikan solusi (sekali lagi gw tekankan, ayah gw bukan Covid-19).

Akhirnya kami pun sepakat dibawa ke RSHS. Setibanya di sana, kami diarahkan untuk menuju unit Forensik RSHS. Uh... Unit forensik ini biasanya menangani kasus-kasus kematian khusus, seperti kriminal, kecelakaan, bencana alam, dsb. Tapi karena tidak ada pilihan lain, kami pun membawa almarhum ke Forensik RSHS.

Setibanya disana, dokter forensik bersedia mengeluarkan surat kematian, tapi hanya setelah melakukan otopsi luar pada almarhum. Biayanya? Rp3,6 juta (sudah termasuk memandikan)! Wow! Bukan dokternya madut, tapi memang di forensik, prosedurnya seperti itu.

Mengejar Rumah Duka

Oke, masalah surat kematian dan pemulasaran (memandikan) almarhum sudah beres. Kemudian kami pun kembali menghubungi RD. Kami jelaskan pada mereka bahwa almarhum sudah ada surat kematian dan sudah dimandikan serta dibalsem, what else do you want?

RD A menyatakan, "kami siap menerima prosesi pemakaman, dengan syarat, wajib dikremasi dan dilakukan pada hari ini juga paling lambat pukul 14.00". Dan saat itu jam sudah menunjukan pukul 10.00; padahal otopsi dan pemulasaran baru dimulai, dan diperkirakan selesai pukul 12.00-an.

Jelas tidak mungkin memenuhi syarat RD A, tapi untunglah RD B justru menyatakan yang sebaliknya, "harus disemayamkan dulu sehari, karena hari ini sudah penuh, besok langsung dikremasi".

Kami pun mengambil pelayanan dari RD B. Tapi RD B juga tidak semudah itu memberikan ruangan pada kami, mereka menginginkan adanya surat kematian dari otopsi secara fisik. Artinya surat kematian harus dibawa langsung ke kantor RD B, tidak bisa lewat fax ataupun WhatsApp.

Akhirnya begitu surat kematian keluar, kami segala tancap gas ke RD, karena jam sudah menunjukan pukul 14. Setelah proses administrasi, mobil ambulan dari RD menjemput almarhum dari Forensik RSHS sambil membawa peti jenazah. Jadi almarhum dimasukan ke dalam peti di RSHS-nya langsung, dan tidak boleh dibuka lagi.

Mengejar Pelayat

Pukul 17.00 semuanya sudah beres. Peti sudah tiba di RD, saudara-saudara serta teman-teman sudah dikabari tentang berpulangnya ayah gw.

Pada kondisi normal, malam hari biasanya para saudara sudah berkumpul satu per satu. Tapi karena ini bukan kondisi normal, hanya segelintir pelayat yang datang. Bahkan tidak ada satupun saudara dari pihak ayah yang bersedia datang melayat. Kalau dari pihak ibu, hampir semuanya melayat (biarpun diwakili 1 orang 1 keluarga, it's ok). Padahal secara hitungan, keluarga dari pihak ayah jauh lebih banyak daripada pihak ibu.

Sebenarnya tidak hanya kami saja yang sepi pelayat, ruang-ruang duka lain di RD juga sepi pelayat. Kadang hanya ada 1-2 orang di dalam ruangan.

Yah, gw pribadi memaklumi alasan saudara-saudara gw yang tidak melayat karena pandemi. Tapi... tidak ada satupun dari pihak ayah?

Keesokan harinya, tanggal 3 April 2020, pukul 10:00, almarhum pun dikremasi di Cikadut setelah didahului oleh kebaktian penghiburan. Lagi-lagi tanpa dihadiri satupun saudara dari pihak ayah.

Kemudian hari Sabu tanggal 4 April 2020, abu ayah gw pun dilarung di waduk Jati Luhur.

FYI, biaya yang kami keluarkan untuk prosesi di RD dari peti sampai kremasi adalah Rp9,5 juta.

Seriously...

Tujuan dari blog gw kali ini adalah berbagi pengalaman gw yang campur aduk saat meninggalnya ayah gw. Bagaimana rumitnya meminta surat kematian, sulitnya mencari layanan pemulasaran, sulitnya mencari rumah duka, sampai sulitnya mengumpulkan saudara-saudara untuk melayat.

Pada satu sisi, gw mengerti bahwa saat ini kita hidup dalam kondisi yang tidak normal. Yang membuat orang-orang takut tertular, dan lebih berhati-hati pada lingkungannya. Tapi pada sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang menderita ketakutan yang berlebihan, dan mencurigai semua orang menderita Covid-19 (kecuali dirinya). Dan tidak satupun?? WTF??

Padahal jika almarhum adalah PDP atau suspect Covid-19, jangankan prosesi di RD, bahkan kamu semua wajib karantina 14 hari, dan prosesi tidak boleh dihadiri siapapun.

Sekali lagi, pada kondisi tidak normal ini, gw sarankan satu hal lagi, jangan mati! Atau tidak ada satu orang pun yang akan datang melayat /sarkasme.


Posted By: admin
Posted On: May-06-2020 @ 11:05am
Last Updated: May-06-2020 @ 11:20am

There is no comment

More Comments/Post Your Own