Just a Thought on 4K HDR & Smart TV: LG 43uj632t

Just a Thought on 4K HDR & Smart TV: LG 43uj632t

Bulan kemarin bukanlah bulan keberuntungan gw. TV LG 42" yang sudah setia menemani gw selama (baru) lima tahun tiba-tiba tewas. Saat gw menghubungi service center LG, mereka memberitahu bahwa biaya perbaikannya sekitar 4 jutaan. Alias mending beli baru.

Setelah browsing-browsing, akhirnya gw memutuskan untuk membeli TV LG lagi, dengan tipe 43uj632t (uh, model yang membingungkan). Beberapa alasan gw memilih model itu adalah: layar IPS yang bisa dilihat dari sudut manapun, resolusi 4K yang lagi nge-trend, fitur HDR dan tentu saja smart TV.

Biarpun TV-TV 4K LG kelas menengah memakai komposisi pixel RGBW tapi pada kenyataannya hal itu sama sekali tidak mengganggu pengalaman menonton gw. Apalagi gw memakai TV ini untuk menonton film, bukan untuk bekerja dengan PC. Dengan sedikit tweaking dan kalibrasi, gw berhasil mendapatkan gambar yang cukup memuaskan dengan hitam yang cukup pekat dan warna yang akurat.

But, enough about the TV. Disini gw lebih ingin membahas soal smart TV, 4K & HDR. Are they worth it? Apakah teknologi TV terbaru tersebut sepadan dengan biaya tambahan yang harus dikeluarkan?

Smart TV

Smart TV di LG memakai OS namanya webOS yang dibeli LG dari Palm. Hasilnya sebuah OS yang smooth dan responsive. Smart TV mengubah TV menjadi seperti sebuah PC. Kita bisa memasang berbagai aplikasi yang bisa di download dari app store-nya LG, misalnya YouTube, iFlix, NetFlix, games, dsb.

Tapi pilihan app di app store LG tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa belas app yang tersedia untuk market Indonesia. Untuk market luar mungkin lebih banyak. Salah satu alasan yang dikemukakan LG adalah karena fungsi TV tetap sebagai TV bukan sebagai yet-another-pc. Well, mungkin saja.

Jadi kalau kamu ingin yet-another-pc dengan banyak apps, rasanya masih mending membeli TV biasa yang dihubungkan dengan Android TV dengan dukungan apps yang jauh lebih banyak.

4K HDR

Saat gw pertama kali mencoba TV ini, karena gw gak punya konten 4K, maka gw langsung mencoba video 4K HDR YouTube dengan memanfaatkan fitur smart TV-nya. Dan hasilnya… luar biasa. Detail yang super tajam, warna yang lebih kontras dan realistis daripada video HD biasa.

Tapi setelah itu, sudah saja! Karena gw gak punya konten 4K HDR lainnya dan Bluray player gw masih jadul, 1080p SDR. Google Play Movie sepertinya tidak menyediakan konten 4K HDR untuk pasar Indonesia. Dan biarpun misalnya ada, layanan tersebut membutuhkan koneksi dengan kecepatan minimal 15mbps. Uh… kalau pakai mobile data bisa abis dalam berapa menit tuh?

Selain itu, ketajaman 4K hanya bisa dinikmati dari jarak dekat, dan kalau bisa dengan layar yang minimal 55". Untuk jarak menonton normal atau yang layarnya dibawah 50" rasanya 4K tidak terlalu terasa berbedanya.

HDR pun hampir sama. Jika membandingkan side by side dengan TV non HDR (SDR), memang kontras warnanya terasa lebih muncul. Tapi jika tanpa pembanding, agak sulit untuk menikmati HDR-nya.

Seriously…

Jadi kesimpulannya apa? Jangan beli TV full feature (4K HDR smart TV) gitu?

Sejujurnya smart TV, 4K dan HDR untuk saat ini bukan hal yang penting untuk dimiliki.

Kalau kamu sedang mencari TV baru berukuran kecil atau menengah (43" ke bawah), gw rasa gak perlu mencari yang 4K HDR. Kecuali kalau kamu suka menonton dari jarak dekat (1-2 meter).

Sementara untuk smart TV, kalau kamu berharap yet-another-pc, lebih baik mencari 'dumb' TV yang dihubungkan dengan Android box.

Tapi dilemanya, pabrikan TV sekarang umumnya menempatkan kualitas gambar yang lebih baik pada TV-TV full feature. Sementara TV-TV dengan fitur-fitur standar (dumb 1080p) umumnya memiliki gambar yang kurang memuaskan. Jadi pada akhirnya, konsumen mau tidak mau harus membeli TV full feature untuk mendapatkan kualitas yang lebih maksimal.


Posted By: admin
Posted On: Aug-15-2018 @ 10:10pm
Last Updated: Aug-15-2018 @ 10:25pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own