Kaiju vs Kaiju: Rampage

Kaiju vs Kaiju: Rampage

Sebuah perusahaan bernama Energyne memiliki laboratorium di stasiun angkasa. Di dalam stasiun itu sedang diadakan uji coba rekayasa genetik, kemudian seekor tikus percobaan lepas dan menghancurkan seluruh stasiun. Ternyata ada tiga bongkahan yang berisi materi genetik yang terlontar ke Bumi, dan masing-masing jatuh di sebuah kandang gorila (George), dekat sarang serigala (Ralph) dan seekor buaya (Lizzie).

George sendiri adalah gorilla yang diurus oleh Davis Okaye (Dwayne Johnson). Setelah terjadi perubahan pada diri George, munculah Dr Kate Caldwell (Naome Harris) yang mengaku sebagai pegawai Energyne yang bisa menyembuhkan George. Tapi sebelum George sempat dibawa Dr Kate, munculah Harvey Russell selaku agen pemerintah yang ingin menyita George.

Pada pihak Energyne, sang bos Claire Wyden yang menyadari adanya tiga kaiju akibat percobaannya, dan berusaha memusnahkan barang bukti dengan memancing ketiga kaiju itu ke pusat kota Chicago. Rencananya agar militer bersatu menghancurkan para kaiju.

Maka penonton pun dibawa untuk menyaksikan bagaimana tiga ekor kaiju memporak porandakan kota, dan kemudian saling bertarung menyalurkan nafsu liar mereka.

Where Are Jaegers When You Need Them?

Semenjak kemunculan film Pacific Rim (2013) arahan Del Toro, ketertarikan penonton pada monster raksasa mulai tumbuh, seperti Godzilla (2014), Kong (2017). Bahkan film-film seperti Transformers pun menyelipkan monster robot raksasa.

Mungkin suatu saat Brad Peyton selaku sutradara film ini, sedang mencari ide untuk membuat film monster, dan teringat game masa kecilnya, Rampage (1986). Dan mengira-ngira cerita apa yang cocok untuk sebuah game monster yang aslinya tidak memiliki cerita.

Karena itu gak heran kalau cerita film ini juga agak ajaib dan dipenuhi plot hole dimana-mana. Misalnya: apa bidang usaha Energyne? Kenapa Energyne repot-repot membuat stasiun angkasa daripada pulau terpencil? Kenapa Claire memutuskan untuk memancing kaiju ke kota Chicago daripada, misalnya, padang pasir?

Cerita yang dibawah standar itu diperparah dengan tempo film ini yang terasa amat sangat lambat. Terlalu banyak drama yang tidak perlu. Dr Kate menceritakan saudaranya yang sakit kanker dan berusaha diobati oleh rekayasa genetik. Terus gak ada kelanjutannya. Davis ternyata adalah ex militer. Sudah gitu aja, tidak ada kelanjutannya.

Dari segi karakter pun, Dr Kate terasa sangat mengganggu dengan komentar-komentar sinisnya yang tidak membantu. Jangan bicarakan karakter antagonis maupun Harvey Russel yang tidak memiliki semangat untuk berperan di film ini.

Tapi tentu saja semua ini bisa dipahami karena tujuan utama film ini adalah menampilkan kaiju vs kaiju yang tidak sempat muncul di Pacific Rim Uprising, dengan target penonton penggemar Transformers. Adegan pertarungan di tengah kota dan kaiju vs kaiju disajikan cukup apik dan megah, biarpun semakin terasa biasa saja ditengah kepungan film-film super CGI akhir-akhir ini.

Kalau kamu memang ingin melihat aksi kaiju vs kaiju, gw sarankan masuk 1 jam setelah film di mulai. Karena 1 jam pertama film ini dipenuhi drama yang mengantuk dan sedikit adegan kaiju.

Seriously…

Nama Dwayne Johnson memang sedang memuncak akhir-akhir ini. Film-film actionnya seperti San Andreas, FF8; film komedi seperti Jumanji, Central Intelligence, atau Baywatch; biarpun tidak banyak memenangkan penghargaan, tapi cukup menghibur, terutama Jumanji & Central Intelligence.

Tapi film Rampage ini sepertinya benar-benar bergantung atas nama besar The Rock. Hasilnya sebuah film yang dibawah standar The Rock. Setidaknya di Baywatch kita masih bisa cuci mata melihat bikini, di Rampage kita hanya bisa melihat gorila digital mengacungkan jari tengah.

Rating gw: 55%


Posted By: admin
Posted On: Apr-12-2018 @ 09:10pm
Last Updated: Apr-12-2018 @ 09:22pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own