Kehamilan Pertama: Part 1

Kehamilan Pertama: Part 1

Perlu diluruskan, istri saya yang hamil :)

Sekedar kata-kata pembuka yang wajib ditulis, setelah sebuah pernikahan, tentu saja anak menjadi idaman (hampir) semua pasangan. Ya, tentu ada saja pasangan yang gak ingin punya anak, tapi umumnya setiap pasangan ingin punya anak. Termasuk juga kami.

Saya dan istri sudah menikah hampir 1,5 tahun, dan baru-baru ini dikaruniai calon anak. Sebenernya secara kedokteran, kami termasuk pasangan kurang subur. Karena dalam istilah kedokteran, jika pasangan sudah menikah lebih dari setahun tapi belum hamil dikategorikan infertil, alias mandul.

Sebenernya ini kejutan juga, karena kami termasuk pasangan telat menikah. Umur saya dan istri sudah kepala tiga, bahkan sudah mendekati empat. Tadinya kami berpikir harus ikut program hamil, tapi ternyata Tuhan berbaik hati memberikan kehamilan dengan cukup cepat dan tanpa proses berbelit-belit.

Tujuh Minggu

(PS: Tujuh minggu adalah usia kehamilan saat pertama kali istri saya diperika. Ternyata usia janin dihitung dari HPHT, hari pertama haid terakhir)

Setelah ditunggu-tunggu, ternyata istri terlambat haid sampai dua minggu lebih. Tepat pada tanggal 18 September 2016, sang istri melakukan test pack, dan hasilnya positif! Maka empat hari kemudian, kami pun mencari dokter kandungan.

Dokter yang kami pilih adalah Dr. R di RS I, karena RS tersebut dekat rumah saya, dan konon sang dokter cukup terkenal di Bandung.

Setelah membayar biaya dokter Rp280,000 (termasuk USG, jadi kata sapa RS umum lebih murah?), kami pun menemui sang dokter. Vonis pertama yang sangat mengejutkan adalah, "IBU INI TIDAK HAMIL". WTF? Padahal haid saja sudah terlambat hampir tiga minggu! Eh gak lama si dokter berkata, "Eh, ternyata hamil yah, baru dua minggu". Duh, ini dokter.

Karena penasaran, kami pun berpindah dokter ke Dr. Y di RSIA L. Dokter ini konon lebih terkenal daripada Dr R dan lebih teliti. Kami pun kembali mengeluarkan biaya Rp250,000 untuk konsultasi dan USG.

Vonis dari dokter ini lebih menyeramkan lagi, "IBU INI SEPERTINYA HAMIL ANGGUR. HARUS CEPAT DIKURET". WTF? Apakah tidak ada dokter yang kompeten di Bandung?!

Disini kami melakukan kesalahan pertama. Setelah pusing dengan vonis dokter yang berbeda-beda, kami memutuskan untuk lebih percaya Dr R. Kemudian memutuskan untuk membeli obat yang disarankan Dr R, yaitu: Ascardia, Hystolan dan vitamin. Kami baru mengetahui bahwa Ascardia adalah obat pengencer darah yang hanya boleh diberikan setelah ada hasil lab! Entah kenapa Dr R memberikan obat ini tanpa ada hasil lab!

Delapan Minggu

Pada tanggal 29 September, tiba-tiba istri mengeluarkan flek darah. Kemudian kami pun cepat-cepat kembali ke Dr R. Kali ini dia berkata, "oh usia kehamilannya lima minggu". Uhm, bagaimana mungkin minggu kemarin dia berkata dua minggu, selang seminggu jadi lima minggu?

Dia hanya berkata, banyak istirahat. Dan dikasih lagi obat: Hystolan, Aspilets & Utrogestan. Untung saya melakukan riset kecil-kecilan di internet, ternyata Aspilets itu fungsinya mirip Ascardia, yaitu pengencer darah! Setelah gw telepon si dokter, barulah dia berkata, "oh, kalo gitu, Ascardia-nya dihabiskan dulu, Aspiletnya nanti". WTF?! Berarti dokter ini tidak memperhatikan rekam medis pasien! Sampai-sampai dia tidak sadar memberikan obat yang sama, yang kalau diminum berarti istri saya minum dua butir pengencer darah sekaligus!

Kondisi pendarahan istri tidak berhenti. Pada blog berikutnya, saya akan bercerita bagaimana akhirnya kami kehilangan janin kami.


Posted By: admin
Posted On: Oct-25-2016 @ 12:00am
Last Updated: Oct-25-2016 @ 12:12am

There is no comment

More Comments/Post Your Own