Kehamilan Pertama: Part 2

Kehamilan Pertama: Part 2

Pada blog sebelumnya, saya sudah bercerita bagaimana gembiranya kami ketika tahu bahwa sang istri ternyata hamil, kemudian kami membawanya ke Dr R di RS I, Bandung.

Tidak lama setelah diperiksa, ternyata istri saya mengalami pendarahan yang semakin parah.

Sembilan Minggu

Pada hari Sabtu, 1 Oktober, ternyata pendarahan istri semakin parah. Saya pun segera menelpon Dr R ini. Ternyata tanggapannya super dingin bin ajaib, kurang lebih dialognya begini:

+ "Pak, tolong bantuannya, ini kenapa istri saya pendarahan terus."
- "Sebenernya saya juga lihat janinnya kurang bagus, kurang menarik lah" <WTF? Selama ini kontrol, dia gak pernah bilang apa-apa!>
+ "Jadi gimana yah? Bapak hari ini ada di RS?"
- "Begini, saya tidak pengen kamu cuma datang ke RS, kemudian USG, dan pulang lagi"
+ "Jadi gimana dong?"
- "Nanti saja Senin kamu ke saya lagi" <loh, emang pendarahannya disumpal pakai kapas sampai senin gitu?>

Disitu sudah kerasa dokter ini lepas tanggung jawab. Saya dan istri jelas bingung harus ngapain. Akhirnya saya coba ke RS I, berharap ada dokter kandungan yang stand by. Ternyata tidak ada satupun dokter kandungan yang praktek pada hari Sabtu siang!

Ketika saya jelaskan bahwa istri sudah pendarahan, petugas hanya berkata, "paling masuk ICU aja langsung". Emang ada dokternya? "Gak ada, adanya dokter umum". Again, WTF?

RS Melinda

Setelah berpanik ria dan bingung harus ngapain, akhirnya saya menelpon RS Melinda. Ternyata ada Dr Susan Melinda yang sedang praktek, dan langsung didaftarkan. Biaya konsultasi + USG mencapai Rp380,000.

Gak lama, kami memasuki ruang praktek Dr Susan, dan segera di USG. Ternyata kondisi janin kami memang kurang baik, tapi bukan hamil anggur, dan masih bertahan! Bahkan kami sempat mendengarkan detak jantungnya!

Dr Susan segera memutuskan untuk bed rest total di RS hari itu juga! Dia berkata, "kita coba semampu kita untuk mempertahankan janin". Mendengar kata-kata itu, saya lemes banget. Ketika Dr Susan melihat obat yang diberikan Dr R, dia bengong, "kok kamu dikasih ascardia? Emang kamu ada kekentalan darah? Ada hasil lab-nya?".

Di RS Melinda, kami mengambil kamar kelas tiga. Biarpun kelas tiga, tapi kamarnya cukup bagus, susternya pun cantik dan ramah. Biarlah mahal juga, asal si dede kecil bisa selamat, itu pikir saya.

Tapi apa boleh buat, tengah malam itu juga si dede gugur diiringi sakit perut yang luar biasa. Dr Susan yang baru pulang dari luar kota, langsung mendatangi kami untuk USG, dan berkata, "maaf, janinnya sudah tidak selamat, dia sudah keluar  sendiri dari rahim (istilah medisnya, abortus completus)".

Hari senin pun kami keluar dari RS Melinda, dengan perasaan hampa dan tagihan yang lumayan untuk membeli sebuah Mac Mini. Bukan biayanya yang membuat kami sedih, tapi gugurnya si dede.

After Match

Saya gak bisa bilang bahwa Dr R salah memberikan obat-obatan, atau Dr Y salah melakukan diagnosa, karena bagaimanapun di Indonesia tidak dikenal yang namanya malpraktek. Hanya saja setelah dites, istri saya tidak memiliki kekentalan darah! So, yeah…

Lagipula penyebab gugurnya si dede pun bisa bermacam-macam, terang Dr Susan, bisa karena umur ortu, kecapaian, emang benihnya kurang bagus, atau bisa juga dari makanan, dsb. Untuk itu Dr Susan menyarankan untuk mengurangi junk food.

Dr Susan juga mengatakan agar tidak usah terlalu sedih, karena umumnya setelah gugur, kondisi rahim justru lebih subur. Dia juga menyatakan agar kami mencoba kembali segera setelah mendapatkan haid, dengan selalu konsultasi dari sebelum kehamilan sampai melahirkan.

Seriously…

Sekali lagi, disini saya gak bisa menyalahkan siapapun, tapi saran saya, kalau istri kamu atau kamu sendiri yang sedang hamil:

  • Selalu cari second opinion, jika masih ragu, cari third opinion.
  • Istilah kasarnya, biarlah konsultasi dengan dokter mahal, yang penting janinnya sehat. Biarpun Dr R & Dr Y sama sekali tidak murah.
  • Cari informasi dari teman-teman atau orang tua yang pernah hamil. Jelas mereka memiliki pengalaman lebih banyak daripada kita.
  • Cari informasi dari internet. Memang kadang informasi dari internet agak membingungkan dan membuat kuatir, tapi setidaknya kamu ada pegangan.
  • Bergabung dengan forum-forum seperti ibuhamil.com, infobunda.com, dsb. Informasi di forum biasanya lebih bisa dijadikan pegangan daripada sekedar googling.
  • Jika dokter memberikan obat, cari fungsi obat itu di internet. Jika ragu, tanyakan ke dokter itu. Bagaimanapun kita membayar dokter untuk mendapatkan jawaban, maka sudah menjadi kewajiban bagi dokter itu untuk melayani kita.
  • Jika masih ada obat yang belum habis, bawa kembali ke dokter tersebut. Tidak semua dokter memiliki rekam medis yang akurat.
  • Terutama untuk yang sedang hamil muda, banyak istirahat. Jangan lupa makan makanan sehat & bergizi.

Akhir kata, kadang kami masih sedih & marah dengan gugurnya si dede. Tapi setidaknya ini menjadi pelajaran untuk kami sendiri agar lebih berhati-hati saat hamil kemudian, dan juga mungkin agar kami lebih berhati-hati dalam memilih dokter. Semoga sukses!!!


Posted By: admin
Posted On: Oct-28-2016 @ 10:45pm
Last Updated: Oct-28-2016 @ 10:56pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own