Let's Go to Jakarta: An Online Taxi Review

Let's Go to Jakarta: An Online Taxi Review

Menyambung tulisan gw sebelumnya menyoal layanan online vs layanan konvensional, kali ini gw mau ngebahas layanan taksi online. Di Bandung sendiri gw jarang banget pake taksi atau ojek, baik online maupun konvensional, secara gw punya kendaraan pribadi (motor gitu, males banget naik mobil di Bandung). Nah karena gw kali ini ke Jakarta pake travel, maka gw membutuhkan taksi di sana, karena gak mungkin gw tinggalkan istri dan naik ojek sendiri.

Gw berkesempatan membandingkan taksi konvesional BlueBird (dengan aplikasinya) dan taksi online (Grab & GoCar). Gw gak bisa membandingkan Uber, karena saat mendaftar, ternyata email gw sudah dipakai orang gak dikenal, daripada repot mengurusnya, gw pilih meninggalkan Uber.

Taksi Konvesional:  BlueBird / Pusaka

Untuk BlueBird (BB) atau Pusaka (mereka satu perusahaan), gw mencoba menggunakan aplikasi mereka MyBlueBird. Aplikasi MyBB cukup mudah dipakai, cukup pilih lokasi penjemputan dan pilih lokasi tujuan (jika perlu). Kemudian aplikasi akan mencari taksi BB terdekat. Tapi gw kadang heran karena ada taksi BB di deket lokasi gw tapi tidak dipanggil oleh aplikasi, malah mencarikan taksi yang lebih jauh. Setelah selesai di tujuan, kita bisa memberikan rating pada sopir taksi.

Dari pengalaman gw, sopir taksi BB cukup ramah, dan servisnya baik. Mereka dengan sigap membukakan pintu, dan mengangkatkan koper gw ke dalam bagasi mobil. Kemudian ada beberapa yang mengajak ngobrol sepanjang jalan, ada juga yang diam saja.

Untuk segi biaya, ternyata BB di Jakarta jauh lebih murah daripada BB di Bandung. Tarif buka pintu di Jakarta Rp6,000*, sementara di Bandung Rp8,500*. Untuk tips mereka tidak pernah memintanya, tapi gw selalu memberikan 5000-10,000 atau 10% (tergantung dompet dan servis).

Untuk taksi lainnya seperti Express, Taksiku dsb, gw gak sempat mencoba tapi berdasarkan review-review di internet, konon sama baiknya dengan BB, hanya saja BB lebih mudah didapat di Jakarta.

Taksi Online

Pemesanan taksi Grab maupun GoCar gw rasa mirip-mirip dengan MyBB. Hanya saja ada informasi mobil apa yang akan datang. Pada satu kesempatan, gw dijemput mobil Toyota Vios, pada kesempatan lain gw dijemput Daihatsu Xenia, tapi paling sering kalo gak Avanza ya Xenia.

Dari fasilitas, ada yang menawarkan permen dan minum, ada yang tidak menawarkan apa-apa, malah pernah gw mendapatkan mobil yang rusak AC-nya. Udah jalan macet, panas, gak ada AC. Fiuh.

Untuk segi sopir, pada satu kejadian, gw pernah diantar melebihi tujuan gw. Karena tujuan gw adalah Apartemen Mediterania daerah Central Park, ternyata sopirnya bablas sampai Mall Emporium. WTF? Untung sopirnya menyadari kesalahan dia dan mengantar sampai tujuan tanpa biaya. Secara umum pelayanan sopir taksi online cukup baik.

Nah keunggulan utama taksi online adalah harganya. Khusus Grab gw kebetulan mendapatkan promosi diskon Rp25,000 x 4. Hasilnya gw sempet naik taksi tanpa bayar sepeserpun!

Selain itu karena hitungannya jarak, maka biarpun macet tidak ada tambahan biaya. Hanya saja harus diperhatikan karena pada jam-jam tertentu taksi online menerapkan biaya rush hour yang lebih mahal dari normal.

Kereta Api

Untuk melengkapi pengalaman transportasi umum, maka untuk perjalanan pulang ke Bandung gw memutuskan untuk memakai kereta api Argo Parahyangan. Gw sudah lupa kapan terakhir gw memakai kereta api dari Jakarta ke Bandung, terakhir tiga tahun yang lalu gw memakai kereta api dari Bandung ke Cirebon PP.

Begitu mencapai Stasiun Gambir, gw cukup kaget, karena stasiun Gambir sekarang jauh berbeda dari terakhir gw ke sana. Secara fisik gak banyak perbedaan, tapi sekarang jauh lebih bersih dan teratur, serta dilengkapi banyak tenant seperti KFC, HokBen, Starbucks, Krispy Kreme, dan tidak ada calo yang menyebalkan.

Lebih keren lagi, saat gw memasuki peron. Ternyata sekarang peron hanya bisa dimasuki calon penumpang yang akan berangkat dalam satu jam, jadi gak bisa sembarangan orang memasuki peron. Hasilnya peron benar-benar super duper bersih dan tenang buanget.

Kemudian saat gw 'inspeksi' WC-nya, gak jauh ama WC di mall. Bersih, mengkilap dan gak bau. Airpun mengalir dengan lancar. Wew.

Ini bukan mall! Ini Stasiun Gambir!

Untuk kereta apinya sendiri tidak terlalu banyak perubahan, secara fisik kereta apinya tetap bersih dan cukup tepat waktu. Mungkin perbedaan yang agak menonjol adalah RestoKA yang sekarang menyajikan makanan 'terbatas'. Maksudnya jika dulu kita membeli nasi goreng, maka harus menunggu pesanan kita dibuat dulu. Sekarang mereka membawa setumpuk nasi goreng itu dalam kemasan plastik yang siap saji. Kalau nasi goreng-nya sudah habis, kita gak bisa memesan lagi. Gw rasa dengan cara itu PT KAI bisa meminimalkan resiko makanan basi.

Ini semua tidak lepas dari peraturan ketat yang diberlakukan oleh PT KAI. Seperti tiket kereta yang harus sesuai nama di KTP, kemudian aturan masuk peron maksimal 1 jam sebelum berangkat, dsb, dll. Gw acungi jempol buat PT KAI atas perbaikan-perbaikan ini!

Taksi Bandung

Sebagai bonus, gw membahas sedikit mengenai taksi di Bandung. Saat keluar dari kereta api di Stasiun Bandung, tentu saja yang pertama menyambut adalah sopir taksi yang cukup maksa menawarkan taksi mereka. Rata-rata taksi mereka sudah terkenal di Bandung. Terkenal tidak pakai argo, tidak ada AC, tidak ada senyum, dan tidak ada servis.

Akhirnya gw keluar dari stasiun, dan mencari taksi Blue Bird. Setelah didapat, kami langsung menuju rumah. Servis-nya seperti biasa, cukup baik. Hanya saja ada beberapa hal unik:

  • Tarif taksi jauh lebih mahal daripada Jakarta. Dari stasiun ke rumah gw, Rp40.000. Kalau dibandingkan dengan jarak tempuh yang sama di Jakarta (dengan aplikasi MyBB) tarif di Jakarta cuma Rp30.000! Ini mengingat di Bandung, BB wajib memakai tarif maksimum, berkat tuntutan para sopir taksi abal-abal di Bandung. Yeah, ini namanya kompetisi 'sempurna'. Daripada memperbaiki kualitas layanan, mending intimidasi taksi berkualitas.
  • Hanya saja, ada hal yang perlu diwaspadai. Saat kami naik taksi, sopir menanyakan, "lewat jalan mana yah pak?". Selidik punya selidik, ternyata ini adalah trik sopir taksi di Bandung. Kalau kita menjawab, "gak tau", maka siap-siap saja akan dibawa muter-muter keliling Bandung. Untuk itu gw sarankan pelajari dulu rutenya memakai Google Maps.

Meski taksi BB jauh lebih baik daripada taksi lain di Bandung, tapi cukup sulit untuk mendapatkan taksi BB apalagi ditempat strategis seperti mall atau hotel. Sehingga kadang gw memakai taksi abal-abal. Pengalaman gw pakai taksi abal-abal di Bandung:

  • Argo super kuda, atau tidak mau pake argo.
  • Tips maksa, argo cuma Rp30.000 maksa minta 40.000.
  • Suka tidak menyalakan AC, bahkan kadang sambil merokok.
  • Tidak mau mengangkatkan barang bawaan.
  • Terakhir gw naik taksi abal-abal, bahkan sopirnya mengantuk, setiap berhenti sopirnya tertidur!
  • Dan akhirnya mengintimidasi taksi berkualitas. Mantap!

Seriously…

Setelah berpanjang lebar, bahkan keluar dari topik, gw menarik beberapa kesimpulan:

  • Khusus untuk Kota Jakarta sendiri, gw rasa baik taksi konvensional maupun taksi online memberikan pelayanan yang sama baik, dengan tarif yang sama bersaing.
  • Hanya saja, promosi taksi online, membuat harga mereka terasa jauh lebih murah. Tapi ini perlu dilihat, apakah mereka bisa bertahan lama dengan tarif promosi terus-terusan?
  • Selain itu, taksi online memiliki kelemahan tidak adanya standarisasi, mulai dari kendaraan sampai pelayanan. Kadang kendaraan yang didapat terawat, dan full AC; kadang kendaraan kurang terawat dengan AC rusak.
  • Tapi untuk Kota Bandung sendiri, gw saat ini lebih menyarankan memakai taksi online. Untuk jarak tempuh yang sama dari stasiun KA ke rumah, pakai taksi BB biayanya Rp40.000; sementara pakai taksi online hanya Rp30.000, itu pun belum termasuk diskon; jangan pernah pakai taksi abal-abal!
  • Kadang gw mikir, kalau gw hidup di Jakarta, kayaknya mending pakai taksi, terutama saat ke mall. Bayangkan parkir mobil di mal itu Rp4.000 per jam, belum termasuk bensin, itu pun kalau dapat tempat parkir. Sementara kalau pakai taksi tidak usah memikirkan hal itu.

*) tarif seingat gw, karena blog ini dibuat beberapa minggu setelah kejadian. Tapi yang pasti taksi di Jakarta emang lebih murah daripada di Bandung.


Posted By: admin
Posted On: Apr-27-2017 @ 02:05pm
Last Updated: Apr-27-2017 @ 02:46pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own