Print This Page

Seriously

Membangun Mini PC - Part 1: Casing m-ITX Jonsbo V3+

Tweet
Membangun Mini PC - Part 1: Casing m-ITX Jonsbo V3+

Dalam semangat memperbaharui koleksi gadget saya, saya memutuskan untuk mengganti PC desktop saya yang lama dengan yang baru (ya iya lah, masa dengan yang lebih lama lagi?). PC desktop yang lama speknya agak lumayan sebenernya: AMD A6 3500k, RAM 8GB, HDD 750GB, AMD Radeon HD 7730 1GB DDR5. Hanya saja spek ini ternyata kalah dibandingkan Mac Mini imut saya yang sudah almarhum (karena dijual).

Jadi saya pengen mengganti AMD A6 dengan prosesor baru yang lebih mumpuni. Saya sempat terombang ambing antara AMD FX atau Athlon X4 860K, sampai saya menemukan sebuah casing yang cukup kecil, yaitu Jonsbo V3+.

Sekilas Jonsbo V3+

Ukuran casing mini ini hanya 20 x 21 x 24 cm, kurang lebih 1/3 volume casing PC standar, atau kira-kira segede sebuah mini hifi. Ukurannya yang imut ini ternyata membutuhkan motherboard ukuran khusus yang dinamai Mini-ITX.

Perbandingan Jonsbo V3+ (kanan) dengan casing saya yang sebenernya juga agak kecil

Kelebihan casing ini dibandingkan casing mini lainnya adalah dapat menggunakan power supply biasa (ATX), gak perlu power supply ITX yang agak sulit didapat. Selain itu yang lebih penting adalah, casing ini dapat dipasangi dedicated VGA card! Terdapat dua selot kosong dibagian bawah casing, yang penting VGA card-nya haruslah berukuran standar (tidak terlalu panjang).

Nah, lalu saya cari-cari, ada gak seh motherboard buat AMD yang mini-ITX? Ternyata agak susah, mayoritas motherboard mini-ITX di Indonesia ditujukan untuk Intel. Setelah digali-gali, ternyata ada juga motherboard mini-ITX untuk AMD yaitu MSI A68-HI (tapi yang saya gak ada wifi integrated).

Sekilas MSI A68HI

Motherboard ini memiliki soket FM2+, yang berarti hanya mendukung AMD A-series atau Athlon. Karena saya sudah berencana memakai dedicated VGA, saya pilih Athlon X4-860K yang pada dasarnya adalah A10-7850K quad core @ 3.7GHz tanpa VGA terintegrasi.

Motherboard ini memiliki 2x selot RAM, 1x selot PCIx16, tanpa selot PCIx1, LAN gigabit, total ada 8 port USB (2 USB 2.0 + 2 USB 3.0 dibelakang, dan konektor USB 2.0 + 3.0 di motherboard), dan tentu saja koneksi D-Sub, HDMI, DVI, audio & PS2.

Sebenarnya saya masih gak ngerti, kenapa motherboard sekarang masih ada PS2? Siapa yang masih memakai PS2?

Step 1: Membongkar Jonsbo V3+

Setelah semua komponen lengkap baru lah saya mulai membongkar casing Jonsbo V3+.

Ternyata Jonsbo V3+ ini hanya dapat dipasang 1 HDD 3.5" + 1 HDD 2.5". Karena saya emang berniat memasang 1 HDD 750GB (dari PC lama)  + 1 SDD 60GB (dari laptop lama), hal ini gak menjadi masalah.

Step 2: Memasang Komponen

Memasang komponen di mother board (mobo) m-ITX gak beda jauh dengan memasang di mobo m-ATX, hanya saja sejak awal harus sudah diperhitungkan arus sirkulasi udara.

Serta yang tidak kalah penting, harus melakukan uji coba berkali-kali sebelum merangkai semuanya dalam casing mini. Terbukti saat saya uji, ternyata kabel SATA yang disertakan mobo tidak berfungsi. Untung banyak kabel SATA di rumah saya, dan beruntung saya test dulu sebelum dirangkai dalam casing. Sebab jika semua komponen sudah dirangkai, dan ada yang salah, saya harus ngebongkar semuanya! Beda dengan casing standar yang bisa dibongkar bagian tertentunya saja.

Akhirnya semua komponen sudah terpasang, termasuk PSU, HDD & SDD. Waktunya uji coba.

Saya memasang Windows 10 dengan konfigurasi dual monitor, semua berjalan lancar, dan mantap! Windows 10 dengan SSD bener-bener pasangan yang sempurna, semua aplikasi bisa dibuka dalam sekejab.

Review Sejauh Ini

Casing Jonsbo V3+ ini sebenernya gak kecil banget, karena masih ada casing yang lebih kecil. Alasan saya memilih casing ini karena casing ini bisa memakai PSU standar, dan dapat dipasangi VGA card terpisah.

Secara material casing ini cukup kokoh karena dibuat dari alumunium setebal 1.5 mm. Biarpun terdengar tipis, tapi sebenarnya gak tipis, bahkan cukup tebal, tidak mudah bengkok, kayaknya lebih kokoh dari casing biasa yang 300 ribuan.

Secara desain, V3+ tampil cukup gagah, dengan hanya satu tombol di depan yang merangkap lampu power & hdd. Sementara sisi kanan terdapat 1x colokan USB 2.0, 1x colokan USB 3.0, 1 set colokan speaker & mic. Heran juga mengapa Jonsbo tidak memberikan 2x colokan USB 3.0 saja. Sementara sisi kiri polos dengan lubang ventilasi. Dan sisi belakang adalah back panel mobo. Perlu diingat, casing ini tidak mendukung ODD (optical disk drive, seperti DVD ROM).

Penggunaan material alumunium secara teori dapat membantu membuang panas dari dalam casing. Dan pada prakteknya saat digunakan memang body casing bagian atas dan belakang cukup hangat. Walaupun kayaknya lebih karena panas PSU.

Pemasangan komponen dalam casing ini gak terlalu sulit, karena ruangannya cukup lega, dan penutup samping dan bawah dapat dilepaskan.

Secara keseluruhan, casing ini cukup menarik untuk dicoba. Hanya saja casing ini lebih cocok untuk pengguna personal yang ingin tampil beda dengan casing kompak, namun bersedia berkompromi dengan berbagai keterbatasannya.

Untuk pasar profesional, gamer maupun hobist, kayaknya casing ini gak cocok buat mereka, karena kurangnya slot ekspansi yang tersedia. Sementara bagi yang ingin memasang HTPC, saya rasa lebih baik memilih casing yang lebih kecil dengan syarat memakai VGA onboard (AMD A series).

But… seriously

Saat saya mencoba untuk memainkan game, barulah terdapat satu masalah besar. Kipasnya berisik luar biasa! Seperti ada pesawat terbang dalam casingnya. Saat ditest, temperaturnya mencapai 65 derajat, dengan kipas mencapai 3500+ RPM!
Untuk itu, di bagian kedua, saya akan mengganti CPU Fan bawaan dengan CPU Fan lainnya!


Posted By: admin
Posted On: Dec-10-2015 @ 10:40pm
Last Updated: Dec-10-2015 @ 11:19pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own


Powered by qEngine
Generated in 0,007 second | 15 queries