Membangun Mini PC - Part 2: Kipas Raijintek Pallas

Membangun Mini PC - Part 2: Kipas Raijintek Pallas

Setelah sekian lama gak diteruskan, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan cerita saya soal membangun mini PC. Kenapa lama banget baru dilanjutkan? Karena gak lama setelah saya menulis bagian 1, akhirnya saya putuskan untuk mengganti casing Jonsbo saya dengan casing Fractal Design CORE 1000. Why? What's wrong? Nah itulah yang saya mau ceritain disini.

Step 3: Kipas Baru

Setelah saya memakai casing Jonsbo V3+, ternyata ada masalah besar: panas dan berisik. Bener-bener berisik, seperti ada radiator di sebelah saya, gimana mau ngetik atau nonton film 'seru' kalo gini caranya? Maka saya putuskan untuk mengganti kipas CPU bawaan.

Cari sana sini, saya putuskan untuk mencoba kipas Noctua NH-L9i, tapi ternyata sangat sulit mencari toko yang menyediakan kipas ini. Maka saya jatuhkan pilihan berikutnya ke Raijintek Pallas. Saya pilih kipas ini karena kipasnya besar, sehingga RPM-nya rendah dan gak berisik, serta fisiknya gak tinggi sehingga gak bakal mengganggu kotak PSU.

Setelah saya pasang, dan ternyata emang pas-pasan banget tuh kipas dan PSU, hanya ada jarak sekitar 1-2 cm antara keduanya.

Raijintek Pallas

Nah, masalah timbul saat saya mau pasang kartu VGA saya. Ternyata kipas yang lebar itu malah mengganggu kartu VGA saya. Dilema oh dilema. Akhirnya saya putuskan untuk menjual si casing tersebut.

Kesimpulan Akhir Jonsbo V3+

Untuk casing Jonsbo V3+ sendiri, kesimpulan saya yang sebelumnya gak banyak berubah, yaitu casing ini emang imut. Pada kondisi tertentu casing ini sangat menyenangkan untuk dipakai. Kondisi tersebut adalah:

  1. Jika tidak memerlukan GPU terpisah, alias menggunakan VGA on board, semisal dengan prosesor AMD APU (saya sarankan minimal AMD A8 atau tunggu Zen sekalian).
  2. Atau, menggunakan kipas yang tidak terlalu besar, seperti Noctua NH-L9i, yang sayangnya agak sulit didapat dipasaran Indonesia.
  3. Atau, terima nasib dengan suara kipas yang berisik.

Step 4: Side Note, VenomRX Armada

Akhirnya saya menyerah dengan cita-cita membangun PC kecil bin imut. Tapi sebelumnya saya 'iseng' mencoba casing "VenomRX Armada", singkatnya:

  • Kualitas build-nya tidak jauh dengan casing-casing kelas bawah seperti Powerlogic, tapi harganya lebih mahal dari kelas Powerlogic. Untuk Armada saya beli Rp500,000 tanpa PSU. Sementara Powerlogic hanya Rp300,000 sudah dengan PSU.
  • Ukuran yang tidak standar banget. Contohnya di dalam casing disertakan tempat untuk SSD tapi ukurannya jauh lebih besar daripada SSD saya.
  • Sisi samping casing bisa dibuka untuk manajemen kabel, tapi luar biasa sempit. Dengan ukuran casing sebesar itu seharusnya ruang samping casing bisa lebih besar.
  • Modelnya, setidaknya ini subyektif, kesannya gitu deh. Pengerjaannya masih agak kasar, ada beberapa titik yang masih terasa tajam sampai melukai jari saya!

VenomRX Armada

For the love of God, just don't! DON'T!

Bottom line, not recommended! Saya masih mending pilih casing Powerlogic daripada VenomRX Armada ini!

Yes, seriously!

Pada blog berikutnya saya bakal berikan penutup dari petualangan saya, semoga belum bosen membacanya!


Posted By: admin
Posted On: Oct-16-2016 @ 09:45pm
Last Updated: Oct-16-2016 @ 10:03pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own