Membangun Warnet - Part 1: VictoryNet

Membangun Warnet - Part 1: VictoryNet

Kali ini saya ingin bercerita soal membangun warnet. Mungkin gak banyak yang tahu, bahwa saya juga punya usaha warnet. Yang satu, bernama Victorynet1 (V1), adalah milik saya tapi entah gimana, akhirnya malah nyokap saya dan kakak saya ikut mendapatkan bagian, dunno lah. Yang satu, bernama Victorynet 2 (V2), adalah murni punya nyokap saya, saya cuma menyediakan technical support saja. Jadi saya bakal lebih banyak cerita tentang V1.

Sejarah VictoryNet

Saya memulai V1 sejak tahun 2011. Saya memanfaatkan sebuah kios kecil milik nyokap saya, yang tadinya disewakan ke warnet lainnya. Kemudian warnet itu pindah ke tempat lain, dan saya buka disitu (sekitar satu bulan setelah warnet lama pindah, jadi gak mencuri pelanggan). Awalnya saya buka dengan 8 PC, singkat cerita, sekarang warnet saya memiliki 23 PC dengan spek gado-gado.

Victorynet

Waaaa... kabel berserakan...

Konfigurasi VictoryNet

Untuk PC, speknya gak ada yang luar biasa, seperti AMD Athlon II X250 / AMD A6 6400K, RAM 2GB / 4GB, mobo campur-campur, HDD 250GB / 320 GB, VGA AMD Radeon 5450 / Radeon 4650 / onboard IGP.

Untuk koneksi, saya dari awal pake Speedy. Dari jaman speedy 1MBps Rp650.000, terus naik ke 2MBps, terus 3MBps, dan akhirnya ganti ke FO 10MBps, dengan harga sekitar Rp500.000.

Selain itu, saya juga memakai server proxy (Lusca). Dan sejak tengah tahun ini, saya juga pakai server game dari Cyberindo.

Sementara untuk billing, awalnya saya pake Billing Explorer yang mudah banget dibobol (biarpun lisensi resmi sekalipun), kemudian CyberBilling, dan akhirnya Cyberindo Billing. Jadi intinya warnet saya sudah GCA (Garena Cyberindo Alliance) banget…

Untuk jam operasional, warnet saya teorinya buka 24 jam, tapi prakteknya jam 11 malam sudah tutup pintu, alias pemain gak bisa keluar masuk seenaknya. Karena warnet saya pernah kebobolan, masih untung hanya 4 PC yang hilang. Sejak itu saya buat peraturan, jam 11 malam atau sebelumnya kalau sudah sepi, pintu warnet harus dikunci!

Sementara OP, saya pake tiga orang, tapi bukan sistem 3 x 8 jam. Melainkan 2 shift x 4 hari-an, dengan shift pagi mulai pukul 07.00-16.00; dan shift malam mulai 16.00-07.00 esoknya, dengan pertimbangan shift malam tidak melek terus, melainkan bisa tidur mulai pukul 00.00, selama pintu digembok.

Pendapatan yang pasti cukup lumayan. Sementara pengeluaran yang pasti biaya listrik 1,5 juta-an per bulan (4400 watt), padahal gak pake AC. Dan biaya Speedy sekitar 500.000. Jadi biaya tetap per bulan 2 jutaan. Gak ada sewa tempat. Ini diluar gaji OP dan resiko-resiko lainnya.

Untuk tarifnya sendiri, gak beda dengan warnet lainnya, yaitu Rp3000/jam, dan ada paket 2 jam 5.000, 3 jam 7.000 & 5 jam 10.000. Ini yang sering dibilang "parkir mobil saja lebih mahal dari warnet!".

Bicara soal GCA, sebenernya penghasilan saya meningkat tajam semenjak saya memakai GCA terutama updater-nya, yang berfungsi untuk melakukan update game secara otomatis. Tar kapan-kapan saya cerita lebih banyak soal updater ini.

Membangun Warnet

Pada blog-blog berikutnya saya bakal ngomongin suka dukanya membangun bisnis warnet. Seperti kata pepatah, "tidak ada yang mustahil, tapi bukan berarti mudah!". Kurang lebih begitu juga dengan bisnis warnet, bukannya tidak mungkin hanya saja banyak trik yang harus dipelajari! Stay tune yah…


Posted By: admin
Posted On: Dec-27-2015 @ 10:25pm
Last Updated: Dec-27-2015 @ 10:41pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own