Membangun Warnet - Part 2: Pendahuluan

Membangun Warnet - Part 2: Pendahuluan

Seperti yang udah saya singgung diawal, saya mau ngomongin seluk beluk membangun bisnis warnet sesuai dengan pengalaman saya membangun warnet VictoryNet.

VictoryNet sendiri berdiri sekitar tahun 2011, setelah sebelumnya tempat itu disewa oleh warnet lain. Kemudian saya pake tempat tersebut untuk membuat warnet sendiri, diawali dengan 8 PC, sekarang sudah punya 23 PC, dan cabang kecil VictoryNet 2 yang notabene punya nyokap saya.

Prospek Masa Depan

Sebelum memutuskan buka warnet (atau game center), kita harus liat dulu prospek warnet ke depannya. Perlu diperhatikan bahwa internet sudah menjadi kebutuhan di masyarakat perkotaan, dan akses internet juga tersedia dimana-mana dan banyak yang tersedia gratis!

Untuk itu, warnet yang murni browsing saja sudah mulai ditinggalkan pelanggan, mereka mencari warnet yang menyediakan lebih dari sekedar browsing, terutama gaming & streaming.

Karena itu saya lebih menyarankan untuk membangun game center daripada warnet. Bedanya game center dengan warnet:

  • Sesuai namanya, game center lebih berfokus ke game, terutama online game.
  • Game center membutuhkan PC yang lebih powerful.
  • Biaya pembangunan game center sudah pasti lebih mahal daripada warnet biasa.
  • Walaupun begitu, potensi pasar game center masih lebih baik daripada warnet biasa. Biarpun PC sekarang semakin murah, tapi bermain bersama-sama di game center jelas berbeda dengan bermain sendiri di rumah.

Catatan: istilah warnet & game center saya samakan menjadi warnet. Tapi secara spesifik blog ini lebih membahas game center.

Klasifikasi Warnet

warnet
Kiri: Flux, warnet elit di Malang. Kanan: ilustrasi warnet performance

Dari pengamatan saya, setidaknya ada tiga kelas warnet:

  • Kelas budget, yaitu warnet yang tampil apa adanya, dengan spek komputer yang secukupnya. Biasanya menyasar pemain-pemain pemula (baca: bocah cilik, alias bocil), dan jangkauannya adalah pemain lokal di lingkungan warnet. Biasanya tarif warnet ini Rp3.000/jam.
  • Kelas performance, yaitu warnet yang tampil lebih baik, spek PC yang lumayan canggih, dengan jumlah PC bisa mencapai 30+. Target pelanggannya lebih dewasa daripada warnet budget, biasanya anak-anak SMA. Jangkauan wilayahnya lebih luas dari kelas budget, dan banyak yang membawa motor sendiri. Kadang warnet ini ada event-event kecil. Tarifnya berkisar Rp4.000/jam.
  • Kelas elit, yaitu warnet yang benar-benar tampil profesional, dengan atmosfir yang game banget, spek PC luar biasa, layar monitor minimal 20", jumlah PC diatas 50+. Target pelanggannya adalah masyarakat ekonomi menengah ke atas. Biasanya dilengkapi dengan kafe, VIP room, mini mart bahkan wifi gratis! Jangkauannya sangat luas, gak sedikit yang membawa mobil ke warnet seperti ini. Sering banget ada event besar di warnet tipe ini. Tarifnya berkisar Rp5.000/jam.

Setelah mengetahui klasifikasi warnet versi saya, saya akan membahas hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memulai usaha warnet ini.


Posted By: admin
Posted On: Jan-02-2016 @ 10:20pm
Last Updated: Jan-02-2016 @ 10:37pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own