Pacific Rim: Uprising (or not)

Pacific Rim: Uprising (or not)

Pacific Rim (PR1) adalah salah satu film favorit gw sepanjang masa. Film yang dirilis 2013 ini salah satu film paling keren yang pernah gw liat. Maka betapa sedihnya gw ketika mengetahui film ini gak sukses di Amrik sana, dan mereka lebih memilih Growns Up 2 atau serial Transformers daripada film ini. Tapi kesedihan itu dilipur oleh kabar adanya sekuel Uprising (PR2) yang sayangnya tidak disutradarai Guillermo del Toro (GdT). Apakah sutradara barunya, Steven S. DeKnight, bisa memenuhi ekspektasi para penggemar PR atau malah membuat yet-another Transformers?

PR2 mengambil waktu 10 tahun sejak breach (portal antar dimensi) berhasil ditutup Raleigh dengan pengorbanan Stacker Pentecost. Setelah penutupan breach, dunia kembali damai, dan pembangunan dilakukan dimana-mana ditengah-tengah sisa-sisa rongsokan Jaeger dan tulang kaiju.

Jake Pentecost (John Boyega) adalah salah satu pemulung sisa-sia Jaeger untuk dijual kembali. Ditengah salah satu 'misi'-nya, Jake bertemu dengan pemulung lain Amara Namani (Cailee Spaeny) yang bercita-cita membuat Jaeger mini. Karena tindakan mereka sebenarnya melanggar hukum, maka PPDC (selaku organisasi pertahanan dunia) menangkap mereka, dan memasukan mereka ke dalam pelatihan pilot Jaeger. Ternyata Jake adalah salah satu bekas pilot Jaeger yang entah kenapa memutuskan untuk keluar.

Suatu hari, di Australia diadakan konferensi PPDC yang menghadirkan Shao Corporation (selaku produsen Jaeger). Konferensi itu akan membicarakan kemungkinan untuk membuat Jaeger yang dapat dikendalikan secara remote sehingga tidak membutuhkan pilot di dalam Jaeger. Sebelum konferensi dimulai, tiba-tiba muncul Jaeger yang mengamuk. Tindakan Jaeger itu mengakibatkan tewasnya Mako Mori (Rinko Kikuci) selaku kakak tiri Jake.

Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata Jaeger itu adalah produk Shao Corporation yang dikendalikan oleh otak Kaiju! WTF? PPDC pun mencurigai bahwa Shao Corporation yang diketuai Liwen Shao (Jing Tian) dan Newt (Charlie Day) memiliki agenda terselubung.

Nooo….

Seperti yang udah disinggung di atas, PR adalah film favorit gw tahun 2013. Sumpe super keren. Gw sampe lupa makan pop corn sepanjang film, terus nonton ulang sampai 3x di bioskop, beli bluray ori-nya, novel, komik, action figure sampai buku besar Man, Machines & Monsters gw beli. Pokoknya berkesan banget karya GdT itu.

Setelah mengetahui bahwa GdT tidak akan menyutradari sekuelnya, gw sempet kuatir bahwa PR2 akan menjadi next Transformers. Dan hasilnya, well

Dari segi karakter, jujurnya pada PR1 pun gak banyak yang peduli dengan karakter manusianya, apalagi Charlie Hunnam tampil kurang menggigit, tapi karakter Mako Mori dan Stacker Pentecost menghidupkan film itu. Tidak ketinggalan ilmuwan canggung Newt dan Gottlieb. Pada PR2, satu-satunya karakter yang menarik hanyalah Jake Pentecost. John Boyega tampil cukup baik di film ini, tapi pemain lainnya kurang menggigit, apalagi Cailee Spaeny yang seharusnya tampil sebagai gadis pemberontak, disini justru lebih mirip gadis manja yang berteriak-teriak.

Dari segi cerita, jujur juga PR1 ceritanya standar, gak banyak kejutan. Tapi ide seperti drift dua pilot, pedang tersembunyi, para penyembah kaiju, dsb membuat film itu terasa segar. Dibandingkan dengan PR2 yang tidak memiliki ide-ide baru ataupun kejutan lainnya, membuat cerita film ini terasa datar. Apalagi ada beberapa adegan PR1 yang juga muncul di PR2, tapi dengan lebih 'tidak keren'.

Gw jarang membahas musik buat film, tapi PR1 memiliki musik tema yang super keren gubahan Ramin Djawadi, dengan genre rock metal. Di PR2 lagu tema itu kembali didaur ulang oleh Lorne Balfe dengan sentuhan pop yang membuat musiknya kurang bersemangat.

Gak ketinggalan banyaknya adegan keren di PR1. Gw masih inget pertama kali melihat peluncuran Jaeger yang begitu detail dan rumit. Kemudian "Elbow ROCKET!" yang sering gw teriakan saat menonton di rumah (kalo di bioskop bisa-bisa dipelototin orang). Atau saat Gipsy Danger mengeluarkan pedangnya, dan Mako Mori berteriak "私の家族のために" (Watashi no kazoku no tame ni, for my family). Atau saat Otachi tiba-tiba mengeluarkan sayapnya. Atau saat Gipsy Danger memakai kapal tanker seperti tongkat baseball. Wow! Super! Well, tidak ada adegan sekeren itu di PR2.

Dan yang paling penting, desain jaeger & kaijunya. PR1? Super keren. Super detail. Mekanik-mekaniknya terlihat meyakinkan. Kaijunya terlihat sangat mengerikan sekaligus sangat keren, detail otot, gigi, rambut semuanya terlihat jelas. PR2? Not so much…

Yasss!!!

Biarpun PR2 memang tidak bisa menyamai ke-keren-an PR1, tapi bukan berarti film ini tidak menarik. Well, 30 menit pertama hampir tidak ada adegan menarik (selain kucing-kucingan Jaeger besar lawan Jaeger kecil). Tiga puluh menit berikutnya pengenalan karakter pendukung, dan ada beberapa adegan pertarungan singkat, serta drama, drama dan drama.

Menjelang paruh ke dua, film ini berubah dengan kedatangan tiga ekor kaiju sekaligus. Film berpacu lebih cepat, dan membuat penonton lebih lahap memakan pop corn-nya, sambil menikmati adegan pertarungan di tengah kota dan di tengah siang bolong yang lebih megah daripada PR1.

Film ini cocoknya disebut film fan-service. Bukan karena adanya rok pendek (tidak ada rok pendek di film ini!), tapi karena semua yang diinginkan fan PR1 ada disini. Jaeger vs Jaeger, check! Jaeger vs Kaiju, check! Teknologi Jaeger digabung Kaiju, check! Jaeger selain Jaeger utama (Gipsy Avenger) tidak langsung hancur pada kemunculan pertama, check! Empat jaeger vs tiga kaiju, check! Kaiju bergabung menjadi kaiju super raksasa, check! Check, check, check! Yang gak ada adalah kaiju vs kaiju. Mungkin disimpan untuk Godzilla vs King Kong.

Seriously

Salah satu yang gw perhatikan adalah adanya pergeseran target pasar PR2. Pada PR1 semua pemerannya adalah orang dewasa, sementara di PR2 hanya Jake Pentecost dan Nate Lambert (co pilot) yang merupakan orang dewasa. Sisa pilot lainnya adalah remaja. Mungkin Legendary selaku produsen film ini ingin menjangkau generasi muda yang merupakan pangsa pasar film terbesar di Amerika.

Selain itu, mengingat kesuksesan PR1 di China (film dengan opening terbesar ke-6 dalam sejarah bioskop China), ditambah bahwa Legendary sudah dibeli Wanda Group dari China, maka tidak heran cukup banyak elemen oriental di sini. Mulai dari kemunculan aktris favorit Legendary, Jing Tian sampai cukup banyaknya porsi bahasa Mandarin yang dipakai, sampai peran Jing Tian yang menjadi penentu kemenangan Gipsy Avenger.

Mungkin kalau dibandingkan film sejenis seperti Transformers (terutama 2, 3, 4, 5, bleh) atau Power Ranger (2017), PR2 gw rasa masih lebih unggul dibandingkan film-film itu. Tapi jangan dibandingkan dengan PR1 yang lebih menyerupai karya seni dengan detail yang sangat tinggi, ala "eye protein"-nya GdT. Setidaknya PR2 cukup menghibur sebagai film pop corn.

Rating: 85% (PR1), 60% (PR2).


Posted By: admin
Posted On: Mar-24-2018 @ 09:05pm
Last Updated: Mar-24-2018 @ 09:23pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own