Ready Player One: Nostalgila!

Ready Player One: Nostalgila!

Ready Player One (RPO) adalah film terbaru besutan sutradara Steven Spielberg yang sudah tersohor dengan kemampuannya meramu film-film sci-fi seperti ET, Jurassic Park, Minority Report, dsb. Kali ini Spielberg kembali dengan tema futuristik yang kekinian, yaitu Virtual Reality (VR).

Ceritanya mengambil seting tahun 2045. Setelah keruntuhan ekonomi dunia, penduduk Bumi mencari hiburan (dan pekerjaan) dalam dunia virtual, Oasis. Sebuah game yang dibuat oleh James Halliday & Mark Rylance. Sebelum kematian Halliday, dia menyatakan bahwa dia menyembunyikan tiga buah kunci rahasia dalam Oasis. Yang berhasil mendapatkan ketiganya akan menjadi pemilik Oasis dan kekayaan Halliday $500 miliar (hampir 6x-nya harta Bill Gates).

Salah satu pemain Oasis (well, hampir semua orang di Bumi bermain Oasis) adalah Wade Watts alias Parzival (Tye Sheridans). Setelah cukup lama, akhirnya dia berhasil memenangkan kunci pertama. Tidak lama teman-temannya, Aech, Sho & Daito pun berhasil mendapatkan kunci tersebut. Oh, tidak lupa, Art3mis yang jadi gebetan Parzival pun berhasil.

Hal itu tentu memancing perhatian seluruh pemain Oasis, termasuk Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) selaku CEO IOS, konglomerat gamer dan pengelola Oasis. Nolan berambisi untuk menguasai Oasis agar dapat memerah uang pemain Oasis lebih banyak lagi.

Tidak lama setelah memecahkan kunci pertama, Parzival dan teman-temannya berhasil memecahkan kunci kedua. Nolan pun semakin gatal, dan menghalalkan segala cara untuk menghentikan Parzival dkk, termasuk berbuat curang di dunia nyata maupun dunia maya.

Nostalgila!

Salah satu kekuatan film ini, selain visualnya, adalah faktor nostalgia. Sejak film ini dibuka, Spielberg langsung menjejali penonton dengan lagu-lagu tahun 1970/80-an seperti Jump-nya Van Halen, Take on Me-nya A Ha, I Hate Myself for Loving You, dsb.

Selain lagu-lagu klasik (kuno), banyak karakter game maupun animasi yang turut meramaikan film ini, seperti Iron Giant, Halo, Back to the Future, Gundam, Akira, Batman, Street Fighter, King Kong dan masih banyak lagi.

Pokoknya kalo mengaku nerd sejati, mestinya kamu bisa menebak karakter-karakter yang ada di film ini. Well, kecuali karakter utama, karena karakter mereka adalah karakter original.

Visual film ini juga luar biasa. Gak heran karena dibuat oleh ILM yang udah kesohor. Biarpun mungkin karena banyaknya film CGI akhir-akhir ini (terutama super CGI heroes), maka gak banyak yang perlu dibicarakan. Beberapa adegan memang terasa CGI, tapi mengingat film ini berseting dunia maya, mungkin adegan itu memang disengaja terlihat CGI.

Saat kita mengarungi dunia Oasis, semua terasa keren. Tapi saat penonton dibawa ke dunia nyata, semua terasa hambar. Mungkin itu memang tujuan Spielberg untuk menunjukan alasan kenapa pemain Oasis sangat demen di dunia virtual. Tapi sentuhan detail Spielberg yang banyak ditunjukan pada film-film lainnya sangat tidak terasa di film ini. Desain-desain bangunan yang begitu saja, desain mesin yang sangat standar, kurang mengilhami penonton.

Karakter dalam film ini pun kurang digali. Gak banyak latar belakang yang diberikan pada karakter utamanya. Bahkan hubungan antar karakter terasa sangat fungsional dan kurang organik. Semua mengalir begitu saja.

Segi cerita dan plot pun terasa kurang menggelitik. Cerita yang klise dengan plot yang standar membuat adegan di luar Oasis terasa datar. Puzzle yang ada kurang menggigit, alih-alih ikut berpikir, penonton hanya bisa diam mengikuti alur cerita.

Ada hal yang agak mengganjal gw, kalau semua orang menggunakan kaca mata VR dan VR bereaksi dengan gerakan pemakai. Bagaimana pemakainya bisa berlari-lari di tengah jalan tanpa menumbuk dinding atau mobil?

Seriously…

Yang membuat gw agak bingung adalah keputusan Spielberg untuk mengangkat nostalgia dari tahun 1970-80. Sementara film ini diseting tahun 2045, yang berarti ada jeda 75 tahun. Padahal jangankan beda 75 tahun, angkatan jaman now yang menonton film ini saja belum tentu mengenal A-Ha, Back to the Future, Akira, dsb. Mungkin kalo Spielberg mengangkat budaya tahun 2000-an, film ini bisa lebih kena dengan target penontonnya, yaitu remaja.

Alhasil film ini gw rasa lebih kena untuk generasi tua (termasuk gw), untuk generasi now, kayaknya lebih banyak binung kenapa ortu mereka tersenyum-senyum melihat DeLorean.

Rating: 70%


Posted By: admin
Posted On: Apr-01-2018 @ 04:45pm
Last Updated: Apr-02-2018 @ 10:42am

There is no comment

More Comments/Post Your Own