Red Sparrow: Not Red District!

Red Sparrow: Not Red District!

Red Sparrow (RS) mengambil tempat di Russia dengan seting waktu modern. Ketika seorang balerina, Dominika Egorova (Jeniffer Lawrence) terluka, dia dan ibunya terancam diusir dari rumahnya karena tidak bisa membayar sewa. Kondisi ini diperparah karena ibunya sedang sakit parah yang membutuhkan perawatan kontinyu.

Tidak disangka 'bantuan' datang dari pamannya, Ivan Egorov, yang juga merupakan agen SVR (agen rahasia ex KGB). Ivan tertarik untuk merekrut keponakannya melihat parasnya yang cantik yang diyakini dapat menghipnotis target-target SVR.

Pada saat yang sama, Nate Nash (Joel Edgerton) agen rahasia CIA di Rusia hampir ketahuan saat bertukar informasi dengan nara sumbernya. Nate pun dipanggil pulang ke Amrik, tapi nara sumbernya di Rusia tidak mau berhubungan dengan agen Amrik selain Nash. Akhirnya Nash pun diutus kembali ke Rusia untuk berkomunikasi dengan nara sumbernya.

Kembali ke Rusia, Dominika yang terjepit, akhirnya mau bergabung dengan SVR selama ibunya bisa mendapatkan perawatan. Setelah menyelesaikan misi pertamanya, Dominika dilatih disebuah sekolah mata-mata khusus.

Tugas pertama Dominika setelah lulus dari sekolah tersebut adalah menjalin hubungan dengan Nate Nash. Tapi Nate Nash bukan mata-mata bodoh, dia mencurigai bahwa Dominika adalah agen SVR.

Maka film ini berisi adegan kucing-kucingan antara Dominika dan Nate Nash untuk saling mengakali satu dan lainnya.

Bukan Red District!

Film ini sempat memancing kontroversi karena konon cukup banyak adegan bugilnya, bahkan di Indonesia diberikan rating 21+. Well, saat gw menonton di bioskop, hampir semua adegan 'seru' itu dipotong habis, yang membuat gw berpikir, "lalu rating 21 itu buat apa?"

Cerita film ini sebenarnya cukup keren. Karena Nash mengetahui bahwa Dominika adalah agen SVR, dan Dominika juga mengakuinya, maka penonton diajak bermain untuk menebak apa keinginan Dominika sebenarnya. Mengapa Dominika sedemikian terbuka pada Nash? Apakah demi meraih kepercayaan Nash atau memang dia tulus?

Alur film ini memang cukup rumit, meleng dikit, dan kamu bisa kehilangan informasi penting. Jadi sebelum nonton film ini, mending ke WC dulu. Biarpun rumit, tapi film ini ditutup dengan baik, hampir semua pertanyaan penonton bisa terjawab pada endingnya.

Akting Jeniffer Lawrence tidak usah dipertanyakan, aksen Rusia, gerak-geriknya cukup meyakinkan sebagai mata-mata Rusia. Hanya saja chemistry dengan Joel Edgerton kurang menggigit.

Biarpun sempat dituding film esek-esek (which is impossible), Lawrence menyatakan bahwa film ini menampilkan girl power bukan sex power. Dan dari potongan bioskop yang penuh sensor itu, gw setuju bahwa ini bukan film dengan tema esek-esek. Sebab biarpun di sekolah mata-mata diajarkan untuk menggunakan tubuh untuk mengorek informasi, tapi Dominika sama sekali tidak pernah menggunakan tubuhnya dalam misinya, bahkan dia sangat menjaga harga dirinya. That's a girl power in my opinion!

Kepiawaian film ini adalah kelebihan terbesar dan kekurangan terbesarnya. Ditengah akal-akalan Dominika yang sangat cerdas, gw masih gak ngerti bagaimana seorang balerina yang dilatih menjadi mata-mata dalam 4-5 bulan bisa memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan Jason Bourne, dan kelincahan Lorraine Broughton (Atomic Blonde).

Seriously…

Film ini bukan film yang mudah dinikmati seperti film super hero, harus penuh konsentrasi. Adegan kucing-kucingan sepanjang film sangat menarik untuk diikuti. Hanya saja plot nya yang kadang terlalu cepat dan sangat padat mungkin kurang cocok bagi penonton yang tidak menyukai film mata-mata.

Rating gw: 70%


Posted By: admin
Posted On: Mar-07-2018 @ 10:30pm
Last Updated: Mar-12-2018 @ 12:27am

There is no comment

More Comments/Post Your Own