Review: Asus Zenbook UX305FA

Review: Asus Zenbook UX305FA

Sebenernya sudah agak lama saya ingin mengganti laptop saya sebelumnya (Sony Vaio SVE11125-CVE) dengan laptop baru. Alasan diganti karena beberapa hal:

  1. Lambat! Vaio itu menggunakan prosesor AMD E2, yang dapat dibilang Celeron-nya AMD, hanya saja performanya luar biasa...lambatnya! Bahkan lebih lambat daripada AMD Sempron (desktop). Biarpun sudah diganti dengan SSD dan memori ditambah sampai 6GB pun tetap lambat.
  2. Layar terlalu kecil, hanya 11.6". Sebenarnya untuk kebutuhan sehari-hari sih ok juga, hanya saja kalo udah urusan dengan coding, bener-bener gak enak, apalagi resolusinya rendah hanya 1366x768px.
  3. Berat & tebal. Bobotnya sendiri sebenernya hanya 1,5kg, lebih ringan daripada laptop umumnya yang mencapai 2kg-an. Hanya saja dengan performa dan ukuran layarnya itu, laptop tersebut terasa berat banget.

Nah, kemudian saya cari laptop baru yang lebih lumayan dari Vaio tersebut. Setelah mencari referensi sana-sini, akhirnya saya menemukan ultrabook Asus Zenbook UX305FA di sebuah toko online. Harganya sendiri lumayan sampai 9 jutaan. Saya sempet ragu karena umumnya harga ultrabook mencapai Rp15 jutaan (misalnya MacBook Air, HP Envy, Dell XPS 13), apalagi prosesornya Intel Core-M, apaan tuh?

Tapi setelah saya baca-baca review-nya di internet, akhirnya saya nekat juga beli ultrabook yang bagi saya cukup mahal ini, dan ternyata memang harga tidak bohong, biarpun cukup mahal, tapi kualitasnya pantas diacungi jempol.

Sebenernya sudah cukup banyak situs komputer yang membahas ultrabook ini, jadi saya rasa gak perlu menambahkan sebuah review amatiran untuk produk ini, saya disini lebih pada merangkum apa isi review tersebut dilengkapi pengalaman saya sebagai pengguna awam.

Asus UX305FA

Desain

Ukuran ultrabook ini 32,4 x 22,6 x 1,2cm dengan berat hanya 1,2kg, sangat tipis, mudah dimasukan ke dalam amplop samson jika mau. Apalagi dalam paketnya sudah tersedia ‘amplop’ laptop yang terbuat dari kain.

Dari segi desain, Asus Zenbook UX305FA ini tampil premium. Secara konstruksi tidak terasa ada cacat seperti lubang menganga atau bagian yang berderit. Semua terasa solid.

Asus Zenbook UX305FA ini memakai full alumunium body, jadi gak kalah dengan MacBook Air sekalipun yang harganya jauh lebih mahal.

Tapi karena body-nya tipis dan menggunakan alumunium, bagian layar dan body dapat agak mudah tertekuk. Bukan berarti saat pemakaian layarnya bergoyang-goyang atau body-nya lembek, hanya saja sangat riskan kalau sampai terjatuh, untuk itu saya sarankan untuk menggunakan dengan lebih berhati-hati, dan jangan dilempar-lempar biarpun dalam tas laptop. Sedikit banyak ini mengingatkan saya dengan Bendgate-nya iPhone 6.

PerbandinganDibandingkan laptop Sony Vaio SVE11125-CVE (netbook 12")

Prosesor

Asus Zenbook UX305FA menggunakan Core-M 5Y10 0.8GHz (Turbo Boost 2GHz) yang ternyata cukup bertenaga, bahkan pada banyak benchmark posisinya diatas Core i3, dibawah Core i5. Hampir semua program yang saya pake bisa berjalan di laptop ini, termasuk browser dengan belasan tab terbuka, program agak berat seperti MS Office, Adobe PhotoShop, game-game 3D sederhana (Riptide GP, Reckless Driving, Hitman GO, dsb) semua berjalan dengan sangat lancar.

Tapi karena hanya Core-M, saya gak menyarankan untuk menjalankan program yang lebih berat seperti game FPS, bahkan Dota2 pun tersendat, ataupun program serius seperti 3DMax, AutoCad, video editing, dsb.

Karena prosesornya sangat hemat listrik, bahkan prosesor ini tidak memakai kipas! Gak heran kalo laptop ini sangat amat senyap bahkan dibandingkan Mac Mini saya. Bahkan laptop ini tidak memiliki lubang ventilasi sama sekali! Semua panas dialirkan melalui body alumuniumnya, yang dibuang melalui bagian bawah laptop, sehingga tidak mengganggu penggunanya.

Riptide

Layar

Layarnya sendiri berukuran 13.3", cukup besar, dengan resolusi Full HD 1080p yang luar biasa tajam. Hanya saja jika memakai resolusi 1080p, ukuran font di Windows 10 terlalu kecil, untung saja DPI-nya dapat diubah menjadi 125%, atau ubah resolusinya menjadi 1600x900px.

Layarnya menggunakan panel IPS, sehingga sudut pandangnya cukup lebar dan nyaman dipakai dari segala sisi.

Dibagian belakang layar terdapat dua tonjolan, sehingga saat monitornya dibuka, tonjolan itu mengangkat bagian belakang laptop. Entah untuk apa tujuannya, karena laptop ini tidak ada lubang ventilasinya. Mungkin ini untuk memperbaiki masalah engsel yang menghantui Asus Zenbook UX303.

Biarpun saya merasa monitornya baik-baik saja, tapi ada reviewer yang mengatakan warnanya kurang akurat. Tapi karena mata saya biasa saja, saya gak merasa ada masalah berarti, biarpun memang warnanya agak kurang pop dibandingkan monitor LG IPS saya. Tapi ini mungkin perlu jadi pertimbangan bagi yang ingin melakukan editing foto di laptop ini.

Input

Untuk keyboard, memang tidak senyaman keyboard Logitech saya yang besar untuk PC desktop, tapi terbilang lumayan, gak ada masalah berarti di keyboard-nya, kecuali tombol power yang terlalu dengan dengan tombol "delete".

Keyboard-nya sendiri tidak ada backlight, tapi karena Vaio saya juga dulu gak ada backlight, bagi saya ini gak gitu penting.

Trackpadnya terbilang besar dan nyaman dipakai serta mendukung multi touch, seperti untuk zoom-in, zoom-out, dan scrolling. Trackpad terasa cukup responsif.

Beberapa reviewer mengatakan trackpad-nya kurang responsif, dan tombol klik kanannya bermasalah, tapi unit yang saya dapat cukup responsif, dan klik kanannya normal. Apa mungkin karena saya langsung upgrade ke Windows 10?

Storage

Pada unit yang saya beli disertai RAM 4GB. Karena bentuknya yang tipis, maka RAM yang digunakan tidak bisa diupgrade sendiri. Ini perlu dijadikan catatan kalau kamu butuh RAM yang lebih besar. Biarpun sampai sekarang saya belum menemukan toko online di Indonesia yang menyertakan RAM 8GB.

Ultrabook ini memiliki penyimpanan SSD yang juga gak bisa diupgrade sendiri. Unit yang saya beli memiliki SSD 256GB, tapi banyak juga toko online yang menjual unit dengan SSD 128GB.

Konektifitas

Terdapat koneksi WiFi, Bluetooth, 3x port USB 3.0 (dengan satunya bisa terus meng-charge HP biarpun laptopnya mati), 1x slot SD Card, colokan micro HDMI & colokan headphone.

Multimedia

Terdapat web cam 720p dibagian atas layar yang hasil gambarnya lumayan biarpun di dalam ruangan.

Juga terdapat dua buah speaker dibagian bawah laptop, yang volume suaranya cukup kecil. Sehingga kalo dipakai di tempat rame, suaranya tenggelam.

Webcam
Hasil webcam, lumayan lah buat foto si meong...

Batere

Sampai sekarang saya gak tau ejaan EYD untuk batere, apakah memang batere, baterai, atau apa yah?

Untuk batere, laptop ini memiliki batere 45W (19V). Asus mengklaim dengan batere segitu laptop ini dapat bertahan sampai 9 jam. Tentu saja ini semua tergantung pemakaian. Untuk saya sendiri, dengan pemakaian wajar baterenya dapat bertahan dari siang sampai malam, tentu saja lebih baik dari Vaio saya sebelumnya yang hanya bertahan 2-3 jam.

Kesimpulan

Untuk saat ini saya rasa ini laptop terbaik yang pernah saya miliki. Tipis. Bertenaga. Batere lama. Dan gengsinya dong… Halah.

Kalau kamu lagi nyari laptop yang portabel, gampang dibawa dan bertahan seharian, laptop ini perlu dijadikan pilihan, biarpun harganya cukup mahal (bagi saya). Hanya saja perlu dicatat, bahwa laptop ini bukan laptop gaming, bahkan saya lebih menyarankan agar laptop ini menjadi PC sekunder kamu, dalam artian kamu sudah memiliki PC di rumah untuk menyimpan data, main game, dsb.

Ronde Tambahan: Versus MacBook Air/MacBook 2015

Sebenarnya sebelum saya memilih laptop ini, saya sempat terpikirkan untuk mengambil MacBook Air atau MacBook 2015. Hanya saja seperti yang saya sudah pernah saya singgung sebelumnya, saya lebih banyak memakai Windows dalam keseharian, apalagi saya butuh laptop agar dapat membuat program di mana saja yang berarti saya butuh portable apps yang disimpan di USB flashdisk, sementara OS X agak rewel dalam hal portable apps dengan alasan sekuritas. Sehingga kalaupun saya memilih MacBook tetep saja akhirnya harus bootcamp ke Windows.

Selain itu harga MacBook Air 13” itu sekitar 14 jutaan (Intel i5, SSD 128GB), berarti hampir 50% lebih mahal. Sementara harga MacBook 2015 lebih mahal lagi, 18 jutaan (Intel Core-M, SSD 256GB, RAM 8GB). Padahal 9 jutaan saja saya harus mikir, merenung, bertapa cari ilham, apalagi kalo 14 juta atau 18 jutaan.

Tapi akhirnya semua tergantung pada kebutuhan kamu juga. Kalo emang kamu butuh sebuah MacBook, tentunya gak mungkin membeli Zenbook ini.


Gallery

image image
Posted By: admin
Posted On: Nov-30-2015 @ 01:05am
Last Updated: Dec-10-2015 @ 11:17pm

There is no comment

More Comments/Post Your Own