Sejarah Mall Online di Indonesia

Sejarah Mall Online di Indonesia

Toko online profesional sebenarnya baru dilirik secara serius belum terlalu lama, mungkin dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya semua toko online dikelola secara konvensional, dengan menggunakan web site gratisan dan program shopping cart open source.

Mungkin melihat maraknya bisnis online di forum, facebook, dan situs, maka mulai bermunculan mall online. Jadi mall online itu sifatnya seperti mall biasa, yang terdiri atas berbagai macam toko; dengan kata lain, mall online hanya menyediakan tempat (hosting) dan display (program) untuk barang disediakan oleh vendor (anggota) mall. Yang saya inget, salah satu mall online pertama di Indonesia adalah dinomarket.

Awalnya mall online tersebut juga dikelola secara konvensional. Sistem pembayaran yang diserahkan pada vendor, pengiriman yang gimana vendor, dsb. Pembeli hanya dapat memberikan rating atas penjual, dan mall tidak bertanggung jawab jika ada penipuan.

Mall Profesional

Melihat potensi pasar Indonesia yang terus berkembang, gak heran kalo akhirnya ada juga mall online profesional yang buka di Indonesia, dan seinget saya yang paling pertama buka secara profesional adalah Rakuten yang dirangkul oleh MnC Group pada Juni 2011. Saya inget banget karena waktu itu saya jualan secara online juga ditawari buka lapak di Rakuten dengan membayar sekian juta.

Setelah Rakuten yang gak terlalu berhasil membuka pasar Indonesia, masuklah Lazada pada 2012, dan sistem Lazada yang menggratiskan biaya buka lapaknya dan menggunakan sistem komisi, terbukti berhasil mengangkat Lazada sebagai mall online paling besar di Indonesia.

Mall profesional ini beda dengan mall konvensional dulu, mereka menggunakan sistem pembayaran terpadu (jadi pembeli membayar ke mall, bukan penjual), bisa menerima kartu kredit (juga pembayaran konvensional seperti transfer, dan COD), melakukan promosi besar-besaran, menyediakan pelatihan, dsb.

Mall Semi Pro

Sebenernya sebelum mall profesional ada di Indonesia, ada mall semi-pro, yaitu tokopedia.com yang lahir pada Agustus 2009. Disebut semi-pro karena walaupun sistemnya mirip mall profesional, tapi sifatnya lebih konvensional, seperti tidak ada pemotongan komisi, tidak ada biaya buka lapak, bayar dengan kartu kredit kena surcharge 3%, promosi lebih sederhana (bahkan tidak ada newsletter), dsb. Jadi lebih profesional daripada amatiran, tapi lebih konvesional daripada mall modern lainnya.

Selain tokopedia.com, kita juga mengenal bukalapak.com yang sistemnya hampir mirip tokopedia.

The Future!

Sistem mall online di Indonesia sedang booming, semua perusahaan besar berlomba-lomba membuka mall online, seperti Matahari Group yang menanamkan modal $500 juta, atau Bluebird yang menanamkan jutaan dolar untuk situs online maskoolin.

Yang perlu diwaspadai bagi para investor adalah agar tidak terjebak dot-com bubble babak 2. Kalo saya lihat, semakin banyak mall online yang berkibar, tapi hanya 2-3 buah yang bertahan (Lazada, Blibli, Elevenia & Tokopedia), sisanya tidak bisa bicara banyak.

Bagi para konsumen seperti saya, makin banyaknya mall online jelas memberikan makin banyak pilihan. Namun sama seperti saya install BBM, Whatsapp, Line, dsb di HP saya, biarpun banyak apps, tapi temennya itu-itu juga. Jadi biarpun banyak toko online, produknya itu-itu juga, harganya pun itu-itu juga. Yang menyenangkan adalah saat mall online itu mengadakan promosi diskon, nah saat itulah konsumen perlu berburu!

*) tidak ada hubungannya kucing kawin dengan mall online, sejauh yang saya tau.


Posted By: admin
Posted On: Oct-28-2015 @ 01:50am
Last Updated: Nov-09-2015 @ 11:26am

There is no comment

More Comments/Post Your Own