Print This Page

Seriously

Sejarah Toko Online di Indonesia

Tweet
Sejarah Toko Online di Indonesia

Berbelanja online sudah bukan hal yang aneh jaman sekarang.  Saya juga sudah mengenal belanja online sejak jamannya orang jualan pake email... eh, sampai sekarang juga masih banyak yang jualan lewat email, lebih tepatnya sejak jamannya belum ada toko online profesional di Indonesia, sejak belum ada yang berani terima kartu kredit dengan alasan takut fraud.

Saya sudah lupa barang apa yang pertama kali saya beli secara online, kalau tidak salah adalah VCD anime bajakan melalui sebuah blog. Setelah itu saya mengenal situs-situs komunitas seperti Kaskus, VGI, dsb yang menyediakan layanan jual beli, dan hampir semuanya memakai sistem konvensional: pembeli mentransfer uang, baru penjual mengirim barang.

Awal Kemunculan Toko Online

Konon tahun 1979, seorang pebisnis di Inggris, Michael Aldrich, membuat toko berbasis komputer pertama di dunia berbasis koneksi telepon, mungkin mirip BBS.

Kemudian tahun 1990 internet mulai berkembang, dan gak lama, tahun 1995, Amazon membuka toko onlinenya. Amazon pada awalnya hanya menjual buku dan DVD, seiring berjalannya waktu Amazon berubah menjadi mall online,  yang menjual banyak sekali item, termasuk elektronik, gadget, alat rumah tangga, bahkan uranium!

Saya sempat beberapa kali berbelanja dari luar negeri dengan kartu kredit sendiri, tapi yang mengesalkan kadang barang yang saya pesen suka nyangkut di bea cukai. Satu saat barang belanjaan saya, CD yang harganya sekitar $50-an, nyangkut di bea cukai, dan saya harus membuat surat pernyataan diatas meterai bahwa CD itu saya beli sendiri, bukan hasil carding (penipuan menggunakan kartu kredit orang lain), dan membayar pajak sampai 50%. Dafuq!!

Yang bikin emosi, setelah saya penuhi semuanya, saya dikasih tahu, "dik, lain kali kalo masuki barang dari luar negeri, kontak aja Bapak Anu di nomer 000, dijamin pajaknya murah, dan langsung masuk!" Double Dafuq!!

Sekarang pun saya kadang beli barang dari luar negeri, tapi untungnya tidak pernah ada lagi yang nyangkut di bea cukai, karena saya usahakan tidak melebihi $50 per pengiriman.

Toko Online di Indonesia

Balik lagi ke dalam negeri. Sejarah toko online di Indonesia sendiri agak kabur, sepertinya dimulai sekitar tahun 1997-2000-an (era dot com bubble). Saat itu banyak banget situs online yang buka di Indonesia dan beriklan besar-besaran, seperti Astaga, Kafegaul, Kopitime, detik.com, dsb.

Diantara booming situs online itu ada toko online seperti sanur.co.id (sudah tutup) dan bhinneka.com, sebuah toko online yang khusus menjual komputer & spare part-nya, yang sampai sekarang masih ada.

Setelah pecahnya dot com bubble tahun 2000-an, satu per satu situs online besar di Indonesia rontok, dan hanya menyisakan situs-situs 'kecil' yang akhirnya menggeliat dan tumbuh menjadi besar, seperti kaskus, bhinneka.com & detik.com

Escrow (Rekber)

Sebenarnya awal tahun 2000-an itu, toko online di Indonesia mayoritas dikelola secara amatir, salah satu buktinya adalah sangat minimnya toko online yang menerima pembayaran dengan kartu kredit, dan mayoritas masih melalui transfer bank, kemudian barang baru dikirim; beberapa bahkan harus menghitung ongkos kirim secara manual!

Sistem konvensional itu tentu saja beresiko untuk pembeli, karena jika penjual tidak mengirimkan barang pesanannya, pembeli hanya bisa mencaci maki di forum, dan sang penipu tinggal tertawa terkekeh-kekeh.

Untuk itulah kemudian timbul jasa perantara dengan nama "rekening bersama". Sistem yang sangat sederhana, pembeli mengirimkan uang ke perantara, penjual mengirimkan barang ke pembeli, dan uang diserahkan perantara ke penjual. Sistem ini cukup efektif dan umumnya dipakai dalam situs komunitas seperti kaskus; namun akhirnya diadopsi juga oleh mall online seperti tokopedia.com.

Toko Online Modern di Indonesia

Toko online modern di Indonesia baru muncul sekitar tahun 2010-an, ditandai dengan menjamurnya mall-mall online di Indonesia, sehingga toko-toko online 'konvensional' pun mulai berbenah diri agar tampil lebih profesional, misalnya dengan menerima kartu kredit, bisa menghitung ongkos kirim secara otomatis, desain lebih oke, promosi lebih gencar, dsb.

Perusahaan-perusahaan besar pun mulai melirik peluang toko online, seperti Gramedia yang membuka grazera.com. Tapi tidak sedikit juga perusahaan besar yang masih setengah hati membuka toko online, sehingga masih menggunakan program gratisan, dan tidak menerima kartu kredit.

Untuk itulah mall online pun bermunculan. Karena sudah cukup panjang, kita sambung di blog berikutnya yah.


Posted By: admin
Posted On: Oct-27-2015 @ 01:45am
Last Updated: Oct-29-2015 @ 12:56am

There is no comment

More Comments/Post Your Own


Powered by qEngine
Generated in 0,010 second | 15 queries