Suicide Squad: F**k the Critics?

Suicide Squad: F**k the Critics?

Suicide Squad (SS) adalah film anti-super heroes pertama dari DC. Bukan, bukan tipe Deadpool yang tetap hero biar gimana pun, tapi emang bener-bener musuh super heroes. SS adalah sebuah tim yang dibentuk pemerintah sebagai tentara bayangan untuk melakukan tugas-tugas kotor pemerintah, yang dengan mudah dibuang jika sudah tidak diperlukan lagi…biarpun sampai sekarang komik SS masih terbit.

Keputusan DC untuk membuat versi film SS disambut gegap gempita oleh penggemar DC, apalagi mengetahui bahwa pemeran Harley Quinn adalah si seksi Margot Robbie dengan pakaian ketat nan pendeknya. Sekaligus dibayangi kekuatiran penggemarnya, bahwa DC akan membuat film ini menjadi super serius ala Batman v Superman.

Puddin'

Film ini dimulai setelah tewasnya Superman setelah bertarung di film Batman v Superman. Kita diperkenalkan dengan para karakter penjahat kelas kakap, terdapat enam karakter yang diceritakan yaitu Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), Captain Boomerang, El Diablo, Killer Croc & Enchantress --pada tengah film bergabung juga karakter lain seperti Katana & Slipknot--.

Ternyata seorang petinggi pemerintah, Amanda Waller (Viola Davis) ingin membentuk satu pasukan bayangan yang diperkirakan dapat mengimbangi 'new Superman', yang disebut Task Force X (TFX). Dan pasukan itu haruslah pasukan yang dapat dikorbankan. Tentu saja karena pemerintah ingin cuci tangan saat menghadapi super hero yang dielu-elukan masyarakat.

Tidak lama, salah satu anggota TFX, yaitu Enchantress yang merupakan seorang penyihir jadi-jadian ternyata memberontak dan membebaskan saudaranya serta mengambil alih kota Mid Town. Di tengah krisis itu, diputuskan untuk mengutus TFX yang sudah disuntik bom di kepala mereka.

Maka dimulailah tugas hidup mati para penjahat kelas kakap itu. Jika mereka gagal, mereka mati. Jika mereka menang, mereka tetap bukan pahlawan, sehingga disebut pasukan bunuh diri, alias Suicide Squad (hanya sekali kata-kata ini diucapkan di film ini).

Why (Not) So Serious?

Karakter Will Smith & Margot Robbie memang sangat dominan dalam film ini. Dan jujur saja, karakter Harley Quinn termasuk karakter paling kompleks yang pernah saya lihat. Sulit untuk mengerti apa yang dipikirkan Harley Quinn, tapi justru karena dialah film ini terasa lebih ringan, bukan saja melihat *ehem* fisiknya, tapi juga karena joke-joke nyelenehnya.

Sementara karakter lainnya kurang dibahas dalam film ini, bahkan karakter musuhnya pun as cliché as Ultron.

Dari segi cerita dan alur memang standar banget, dan bisa banget ditebak seperti film superhero umumnya (kecuali Batman TDK, the most perfect super hero movie ever!). Tapi hal ini ditutupi oleh adegan aksi yang bertebaran sepanjang film ditambah joke sinis Harley Quinn.

Salah satu kekuatan lain film ini adalah lagu-lagu yang dipakainya asyik banget. Mulai dari musik-musik rock klasik seperti Bohemian Rhapsody sampai lagu pop modern, seperti Heatens, dicampur aduk dalam film ini melatari aksi-aksi yang terjadi di layar.

Salah satu yang cukup mengecewakan adalah ending film ini, tidak separah Iron Man 2 tapi yah, terlalu gampang. Analoginya seperti saat semut melawan gajah, tapi tiba-tiba semutnya berubah menjadi macan.

Selain ending yang agak payah, yang juga cukup mengecewakan dari film ini adalah Joker. Biarpun dalam iklan-iklannya Joker tampil cukup dominan, tapi dalam kenyataannya Joker tampil sangat amat sedikit sekali. Tapi perlu diingat, dalam sejarah komik SS sendiri karakter Joker jarang sekali tampil, karena memang bukan anggota SS.

Selain itu, Jared Leto bukanlah Heath Ledger yang bisa membawa aura yang sangat mencekam biarpun tanpa banyak dialog. Disini Joker tampil seperti penjahat urakan yang tidak menarik. Tapi mungkin memang karena SS lebih komikal daripada (sekali lagi) Batman TDK, dan memang fokus SS adalah SS-nya sendiri.

F**k the Critics?

Sebelum saya menonton film ini saya membaca beberapa review yang rata-rata memberikan nilai buruk untuk film ini. Oh, well, setelah pengalaman BvS yang konon buruk tapi ternyata cukup menarik, akhirnya saya tetep nongton film ini.

Dan ternyata, tidak seburuk yang saya sangka. Tentu saja jangan berharap kualitas cerita Batman TDK, atau kualitas akting Heath Ledger, atau kualitas komedi film Marvel, it's not a perfect film tapi yang pasti tidak seburuk yang diberitakan para kritikus, sehingga memunculkan spekulasi kritikus bayaran (who knows?). Serta yang sudah saya pastikan sendiri, tidak mungkin lebih buruk dari Fantastic Four atau Green Lantern, siapapun yang bilang itu harus dilempar ke Arkham Asylum.

Ceritanya memang banyak hole-nya, banyak hal yang harus dihubung-hubungkan sendiri dan alurnya klise, dan banyak karakter yang tidak digali, serta musuh yang 'uhh… what?', tapi jujur saja, film super hero mana yang memiliki cerita yang bagus (untuk terakhir kalinya, selain TDK)? Dan sekali lagi, yang pasti tidak seburuk yang ditulis para "kritikus"!

Rating: 65%


Posted By: admin
Posted On: Aug-11-2016 @ 12:50am
Last Updated: Aug-15-2016 @ 11:41am

There is no comment

More Comments/Post Your Own