Print This Page

Seriously
Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Thursday, July-11-2019
admin

Pilih Mana, Go-Jek atau Grab?

Sebenarnya itu hanyalah pertanyaan jebakan betmen. Karena jawabannya adalah, "pilih keduanya!". Alasannya mudah, karena keduanya (sampai saat ini) masih gencar melakukan promo bakar uang. Dan promo yang dilakukan ternyata saling melengkapi. Sehingga sangatlah rugi kalau kita bergantung hanya pada satu aplikasi saja.

Kesimpulan itu gw dapat setelah beberapa kali gonta ganti aplikasi untuk melakukan aktifitas yang hampir sama. Misalnya ketika gw mau ke mall, ternyata biaya tumpangan mobil berbeda antar aplikasi. Juga saat gw memesan makanan, ternyata kedua aplikasi itu memiliki promosi yang berbeda. Sehingga sejak itu, gw selalu mencoba membandingkan sebelum melakukan pemesanan.

Nah, biar gak bingung maksud gw apa, gw coba berikan contoh sebagai berikut.

Transportasi

Hampir tiap minggu gw pergi refreshing ke mall (yah, mall lagi, mall lagi). Untuk menuju sebuah mall terdekat rumah gw, gw bandingkan biayanya:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp11.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp6.000,-

Jelas untuk keberangkatan, gw memilih Go-Jek.

Sementara saat pulang dari mall, kondisinya berbalik:

  • Via Grab, dengan OVO + promo: Rp4.000,-
  • Via Go-Jek, dengan GoPay + promo: Rp8.000,-

Kenapa bisa begitu? Gw juga gak begitu paham, tapi yang pasti setiap operator memiliki perhitungan sendiri. Bisa saja karena daerah gw termasuk pinggiran yang kurang pengemudi Go-Jek-nya, sehingga perlu diberikan insentif khusus. Tapi yang pasti, dengan gw menggunakan kombinasi Grab & Go-Jek, biaya gw PP rumah-mall, cuma Rp10,000 saja. Lebih murah daripada bayar parkir mobil di mall!

Makanan

Sekarang bagaimana dengan makanan? Untuk saat ini, secara umum Grab Food lebih menguntungkan daripada Go-Food! Setidaknya untuk kota Bandung.

Gak perlu susah-susah membandingkan, terakhir gw pesan menu Grab Food, mereka memberikan diskon sampai dengan 60% (maksimal Rp80.000,-). Sementara Go-Food? Diskon terbesar akhir-akhir ini yang diberikan hanya Rp8.000,- itupun harus memakai Go-Pay.

Tapi, jangan buru-buru menghapus Go-Food. Kelebihan utama Go-Food adalah daftar merchant-nya yang sangat banyak. Rumah makan kecil depan rumah gw aja terdaftar di Go-Food. Sementara Grab lebih menyasar merchant-merchant yang sudah memiliki nama.

Pembayaran

Ini yang saat ini lagi rame, dapat dibilang 'the real war'. Grab Pay vs Go-Pay. Sayangnya, Grab Pay tidak ada di Indonesia, dan diganti oleh Ovo.

Go-Pay secara umum diterima lebih luas oleh merchant. Hampir semua merchant yang menerima OVO, juga menerima Go-Pay. Tapi tidak sebaliknya. Banyak merchant yang hanya menerima Go-Pay secara eksklusif. Bahkan Go-Pay masuk ke Lotte Mart, yang menyediakan kasa khusus Go-Pay; tapi tidak menerima OVO.

Tapi kembali lagi, promo yang disediakan OVO maupun Go-Pay terbatas untuk setiap merchant. Misalnya merchant A memberikan diskon 20%, maksimal Rp15,000,-, dan maksimal per bulan Rp30,000,-. Strategi ini dijalankan oleh keduanya. Sehingga untuk hasil lebih maksimal, sebaiknya menggunakan Go-Pay & OVO secara bergantian.

Seriously…

Inti dari tulisan kali ini adalah, jadilah konsumen yang cerdas, dan jangan sampai terpaku pada satu operator saja. Jika ada yang lebih menguntungkan, mengapa tidak diambil?

Suatu saat promo bakar uang tiap operator pasti selesai, pada saat itulah kita harus lebih bijaksana memilih operator yang lebih menguntungkan. Tapi untuk saat ini, nikmati saja promo setiap operator!


I Know Gun-Fu 3

Sunday, May-26-2019
admin

I Know Gun-Fu 3

Film tanpa cerita jelas dan tanpa plot serius favorit gw is back! Yes, Baba Yaga 3: Parabellum.

Cerita John Wick 3 ini dimulai tidak lama setelah akhir John Wick (JW) 2, setelah John Wick (Keanu Reeves) dinyatakan 'excommunicado' (diusir) dari High Table, organisasi pembunuh tempat kerja John Wick. Dengan berlakunya 'excommunicado' dan dipasang tarif $14 juta untuk kepalanya, maka praktis semua pembunuh dari penjuru dunia berdatangan ke New York untuk membunuh John Wick. Termasuk sebuah klan Ninja pimpinan Zero (Mark Dacasos) yang memiliki dua orang murid (Yayan Ruhian & Cecep Arif Rahmat).

Sementara, siapapun yang membantu John Wick dapat dikenai sangsi berat, termasuk Winston & Bowery King yang pada JW2 membantu John Wick.

Setelah berjuang sana-sini, akhirnya John Wick berhasil mencapai Casablanca, Morocco untuk meminta bantuan Sofia (Halle Berry) untuk bertemu dengan The Elder, yaitu big bos dari segala big bos-nya High Table. Tujuan John Wick adalah mencari solusi agar dia bisa hidup dengan tenang.

Tak dinyana, Elder bersedia membiarkan John Wick hidup jika Wick bersedia membunuh Winston yang dianggapnya telah membangkang High Table.

Senang Bertemu denganmu Mister Wick

Review ini singkat saja, mungkin dapat dibilang mengulang review gw mengenai JW: Chapter 2. Jadi untuk review lebih mendalamnya, dapat dibaca ulang review gw soal JW2.

Film ini dibuka dengan aksi pertempuran tangan kosong paling keren yang pernah gw lihat sepanjang tahun (sejak JW2). Pertarungan terasa brutal, realistis dan mencekam tapi terasa sangat artistik dan indah. Sulit digambarkan, "unfortunatelly, no one can be told what gun-fu is, you must see it for yourself!". Apalagi sekarang ditambah dengan datangnya petarung-petarung dari luar negeri yang membawa ilmu bela diri sendiri.

Tentu saja bagi penonton di Indonesia, aksi Yayan Ruhian & Cecep Arif Rahmat menjadi adegan yang ditunggu-tunggu. Dan hasilnya tidak mengecewakan, bagaimana dua orang jago pencak silat melawan seorang John Wick yang ahli dengan jujitsu-nya. Apalagi sutradara JW, Chad Stahelski, memasukan beberapa dialog bahasa Indonesia dalam film ini. Dan yang lebih baik lagi, ternyata aksi Mang Yayan cs tidak sekedar lewat, melainkan memiliki porsi yang cukup banyak dan cukup penting.

JW3 juga memperluas dunia Wick, seperti diperkenalkannya hotel serupa Hotel Continental di Morocco, kemudian fungsi Hotel Continental yang ternyata tidak hanya sebagai oase pada pembunuh saja, kemudian penggunaan anjing sebagai mesin pembunuh, dan sebagainya.

Sampai Jumpa

Seperti yang sudah dibahas, film ini memang ditujukan bagi penggemar film aksi 'realistis' tanpa mengandalkan perang CGI ataupun monster CGI. Dapat dibilang cukup 'old school', biarpun bukan berarti tanpa CGI. Bagi penggemar film aksi dengan cerita yang mudah diikuti, wajib banget nonton JW3 ini. Bagi yang mencari film dengan cerita lebih berbobot, tidak ada salahnya mencoba menontonnya juga, istilahnya mindless fun?

Rating: 75%! Sampai jumpa di John Wick 4!


Pika, pika?

Friday, May-17-2019
admin

Pika, pika?

Pika, pika! Pikaa..chu! Pikachu, 60%!

Bagi yang mengerti bahasa Pikachu, review amatiran mengenai film "Pokemon: Detective Pikachu" gw sudah cukup dan jelas.

Bagi yang kemampuannya terbatas dan hanya mengerti bahasa manusia, silahkan baca lebih lanjut.

Film ini mengisahkan tentang Tim Goodman (Justice Smith), seorang pemuda kampung yang baru datang ke kota setelah mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ayah Tim ternyata seorang detektif jempolan di kota Ryme.

Kota Ryme sendiri adalah kota yang sangat unik, karena di dalam kota ini Pokemon dan manusia hidup bersama-sama dan bekerja sama, dan Pokemon disini tidak hidup dalam Pokeball. Ini semua berkat inisiatif dari Howard Clifford (Bill Nighy) yang menginginkan sebuah kota yang menghargai Pokemon sepenuhnya.

Setibanya di Kota Ryme, Tim bertemu dengan Lucy Stevens (Kathryn Newton) seorang jurnalis amatiran bersama Pokemonnya, Psyduck. Lucy memiliki kecurigaan atas kecelakaan ayah Tim, tapi tidak memiliki bukti apapun. Di apartemen ayahnya, Tim pun bertemu dengan Pikachu (Ryan Reynold) yang ternyata merupakan partner ayahnya.

Tidak disangka-sangka, ternyata Tim adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa mengerti bahasa Pikachu! Akhirnya Tim dan Pikachu bahu membahu mencari kebenaran atas kematian ayahnya.

Pikapi?

Sebenarnya bukan kali ini saja Hollywood berusaha membuat sebuah film berdasarkan video game, animasi atau anime, sebelumnya sudah ada upaya seperti Resident Evil, Dragon Balls, Avatar Aang, Ghost In The Shell, dsb yang semuanya berakhir tragis. Well, mungkin Resident Evil tidak seburuk itu untuk film laga, tapi untuk film dari video game?

Setelah melihat filmnya, gw merasa film ini berhasil mendobrak tradisi itu. Kali ini Hollywood tidak memaksakan mengambil seting di Jepang dengan aktor bule memainkan karakter Jepang. Alih-alih, Legendary Pictures selaku rumah produksi, memutuskan untuk membuat atmosfir sembari mengadopsi karakter Pokemonnya saja.

Tidak heran, dalam film ini tidak ada karakter seperti Ash, Brock, Mew, Team Rocket, dsb. Semua karakter film ini adalah karakter baru, dan mengambil seting di negara antah berantah yang merupakan campuran antara budaya Jepang dan barat.

Pemilihan Ryan Reynolds sebagai pengisi suara Pikachu terasa sangat unik. Karakter yang imut-imut, ternyata memiliki suara berat yang mirip banget dengan Deadpool. Tidak dinyana, ternyata suara nge-bass itu cukup cocok juga buat Pikachu, yang disini digambarkan lebih nakal, nekat, dan maniak kopi.

Fokus film ini memang lebih pada petualangan Pokemon-nya, campur tangan karakter manusia terasa sebagai pembuat plot doang. Jika karakter manusia semua diganti dengan Pokemon, rasanya film ini tetap bisa dibuat. Fokus pada Pokemon terasa pada detail-detail kota Ryme yang dipenuhi Pokemon. Misalnya Aipom yang bergelantungan di tiang listrik kota, atau Fearow yang berseliweran, membuat kota Ryme terasa lebih hidup.

Kelemahan film ini terasa pada cerita dan plotnya. Ceritanya sendiri agak klise dan mudah ditebak. Sementara plotnya sendiri terasa berlompat-lompat seperti Rattata. Banyak kejadian-kejadian yang sekedar dibuat untuk memancing tawa dan tegang tanpa berkelanjutan. Seperti saat Torterra raksasa bangun dari tidurnya, dan… sudah saja tidur lagi. Tadinya gw sempat berharap Torterra-nya masuk kota.

Cerita klise dan plot yang penting seru itu mungkin disengaja mengingat target penonton film ini adalah anak-anak, sementara orang tua-nya cukup bernostalgia dengan karakter-karakter Pokemon favorit mereka. Tidak perlulah cerita yang lebih berat dengan plot yang lebih serius.

Pika…

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur dengan karakter CGI Pokemon yang berhasil dibuat 'real' tanpa meninggalkan kesan imut, lelucon yang bertaburan yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak, dibalut cerita sederhana dengan plot yang secukupnya.

Rating gw 60%



Powered by qEngine
Generated in 0,012 second | 4 queries